Ads 468x60px

Featured Posts Coolbthemes

12 Mei 2011

PENGENALAN


Reade more >>

3 Mei 2011

Menolak Kebenaran Awal Bencana dan Kekalahan


“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan kepada orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy). Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).” (Qs. Thaahaa, 20: 1-8)



TANGGUNG JAWAB risalah dakwah yang di-bebankan Allah Swt ke-pada Kaum Muslim, sebagaimana diamanah-kan kepada Rasulullah Saw, tentunya tidak akan terasa berat manakala Kaum Muslim mau mene-lusuri sejarah panjang kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabatnya, se-perti di paparkan dalam Al-Qur’anul Karim.

Ketika Umar ibn Khattab mencapai puncak kemarahannya kepada Rasulullah Saw dan Kaum Muslim, termasuk di antaranya adalah adik perempuannya sendiri, ia bergegas dengan pedang terhunus ditangan men-cari Rasulullah Saw, yang ia anggap mengganggu dan membuat masyarakat Makkah terpecah-belah. Yang tadinya tidak seorang pun berani mengatakan bahwa tradisi Jahiliah ada-lah tradisi terkutuk, tapi se-telah kedatangan Rasulul-lah Saw, suasana yang di-anggap telah tenang, da-mai, dan mapan selama ini, tiba-tiba diubah menjadi sesuatu yang membuat me-reka gempar. Bahkan mem-buat gigi graham mereka gemeretuk menahan ama-rah.

Api amarah yang di-usung oleh Umar dan orang-orang Quraish ha-nya akan padam bila di-bayar oleh melayangnya nyawa Muhammad. Begi-tulah gelora kebencian mereka kepada nabi yang dianggap sebagai biang segala kekacauan. Padahal mereka mengetahui bah-wa Muhammad adalah orang yang jujur. Tidak ada seorang dari bangsa Arab, bahkan dunia sekali-pun yang mendapat gelar Al-Amin, kecuali Muham-mad Rasulullah Saw. Hal ini membuktikan bahwa ternyata gelar dan pujian-pujian yang diberikan oleh Kaum Jahiliah tersebut tidak ada artinya, karena mereka mengingkari peng-hargaan yang mereka sematkan sendiri.

Tradisi-tradisi Jahi-liah yang selama ini me-reka jalankan dengan te-nang, tanpa ada koreksi dan teguran, ternyata di-babat habis oleh keda-tangan Muhammad yang mereka kenal paling jujur di muka bumi, paling halus dan lembut pekerti-nya, serta paling santun terhadap siapa saja. Bagi Umar, orang yang me-nyandang sekian banyak titel kemuliaan itu ternyata seorang pembawa bencana dan gangguan bagi me-reka. Umar merasa tak pantas berdiam diri saja, ia pun bersumpah untuk membunuh Rasulullah Saw.

Tetapi dengan takdir Allah Swt, gejolak dan kemarahan Umar dialih-kan dan disalurkan. Per-tama-tama, dengan api ke-marahan di ubun-ubun ia menuju rumah adik pe-rempuannya yang kala itu sedang belajar al-Qur’an.

Dari luar rumah ia mendengar ada suara, yang diantaranya adalah bacaan dari permulaan surat Thaahaa. Kema-rahannya ia lampiaskan dengan menempeleng adiknya dan membantik adik iparnya, hingga wajahnya lebam-lebam. Tetapi kemarahan Umar itu serta-merta reda karena kesadarannya tergugah ketika ia membaca sendiri catatan kecil yang berisi-kan beberapa ayat dari surat Thaahaa, yang ia rebut dari adiknya.



Apa sesungguhnya yang terjadi pada sosok Umar yang awalnya begitu anti Islam, berubah total menjadi pembela Islam, menjadi kekayaan Islam yang tiada tandingannya sampai hari kiamat?

Setelah di buka oleh ayat pertama, pada ayat kedua Allah menyatakan, “Wahai laki-laki (Muham-mad), Kami turunkan ke-padamu al-Qur’an bukan untuk membuat kamu celaka hidup di dunia”. Ayat ini menjadi bantahan Allah terhadap kaum Quraish yang berkeyakin-an bahwa Muhammad adalah manusia paling ce-laka, karena dia membawa al-Qur’an.

Melalui ayat ini Allah meyakinkan Nabi Saw, bahwa beliau dipilih dan diutus oleh Allah bukan untuk dicelakakan dan bukan pula untuk mene-rima musibah, sebagai-mana anggapan orang-orang Quraish dan Umar yang hendak membunuh beliau. Tetapi ada tujuan mulia, yaitu sebagaimana dinyatakan pada ayat ke-tiga, “Melainkan al-Qur’an ini diturunkan ke-pada kamu Muhammad supaya kamu menyam-paikan per-ingatan kepada orang yang masih punya takut kepada Allah”.

Ayat di atas berisi pe-negasan Allah yang sangat jelas, bahwa orang yang bisa diajak untuk meng-ikuti ajaran Islam hanya-lah orang-orang yang masih punya takut kepada Allah. Se-lebihnya tidak a-kan bisa.

Tanpa Paksaan



Mengajak se-mua manusia agar berkenan meng-ikuti jejak Rasulul-lah Saw adalah harapan yang mu-lia, tetapi Allah memperi- ngatkan bahwa hal itu ada-lah suatu yang mustahil. Yang bisa diajak hanya-lah orang-orang yang dalam hati-nya masih ada rasa takut kepada Allah. Dengan demikian, hati Nabi Saw menjadi lega karena tidak ada target point men-jadikan semua manusia memeluk Islam. Allah ti-dak menuntut Nabi Saw mengislamkan semua orang, karena hal itu bukan kewajiban beliau. Beliau hanyalah penyeru, bukan penentu Islam atau tidak-nya seseorang.

Adapun orang-orang yang tidak punya rasa ta-kut kepada Allah menjadi urusan-Nya. Dengan be-gitu Rasulullah Saw bisa mengangkat muka dalam menyampaikan dakwah Islam.

Tidak adanya tang-gung jawab kewajiban mengislamkan semua o-rang bagi Rasulullah Saw, juga berlaku bagi Kaum Muslim sekarang. Dengan demikian, Umat Islam tidak diperkenankan me-maksa orang untuk harus beragama Islam dan tun-duk kepada Allah.

Pemaksaan agar se-mua orang memeluk Islam tidak parlu dilakukan me-ngingat kekuasaan Allah yang begitu tinggi. Hal ini yang ditegaskan pada ayat yang keempat, “Dan Qur’an ini Muhammad, di-turunkan dari Tuhan yang menciptakan bumi dan yang menciptakan langit yang tinggi”. Islam atau tidaknya sese-orang, tidak ber-pengaruh terha-dap kekuasaan Allah.

Hal lain yang tersurat pada ayat keempat ini adalah Allah meyakinkan manusia bahwa al-Qur’an bukanlah buatan Muham-mad, bukan pula buatan jin, dukun, apalagi para pe-nyair. Tapi Allah lah yang men-ciptakan langit dan bumi. Ini jaminan Allah kepada Nabi Saw supaya beliau tidak ragu dan bimbang karena perlawanan manusia.

Adanya pene-gaskan jaminan dari Allah menim-bulkan keyakinan kuat pada diri Rasulullah Saw bahwa beliau tak akan mungkin mampu dikalah-kan oleh manusia. Karena manusia tidak mungkin dapat mengalahkan pen-cipta langit dan bumi. Itu berarti pula bahwa manu-sia juga tidak akan mung-kin mengalahkan al-Qur’an. Inilah cermin ter-besar bagi kaum Muslim, bahwa ketika mereka kon-sisten membawa al-Qur-’an, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu mengalahkan mereka.

Jaminan uni-versal bagi kaum Muslim, ketika me-reka menyam-paikan al-Qur’an yang sebenarnya, adalah mereka ti-dak akan bisa ber-buat neko-neko (macam-macam). Konsekuensinya, manusia hanya a-kan menjalankan yang diperintahkan oleh Allah Swt. Dan dakwah yang ia sampaikan ada-lah dakwah jujur tanpa ada yang di-sembunyikan, dan tanpa ada yang di-takuti kecuali Allah Swt.

Urgensi rasa takut yang harus dimiliki oleh Kaum Muslim adalah lahirnya kewajiban me-nyampaikan adanya siksa neraka. Allah memberi-kan keyakinan, “liman yakhsya”, hanya orang takutlah yang kamu ajak. Sedangkan orang yang tidak mempunyai rasa ta-kut tidak akan mungkin terketuk hatinya. Oleh ka-rena itu, menyampaikan kepada setiap orang ten-tang neraka dan siksanya, wajib hukumnya. Karena hal itulah yang menjadi titik pangkal untuk mem-bersihkan hati manusia. Ketakutan akan siksa ne-raka dan alam akhirat akan melahirkan kebersihan jiwa.

Namun kenyataan-nya, cerita-cerita tentang pedihnya siksa neraka cenderung disembunyi-kan oleh sebagian besar juru dakwah dengan ala-san takut ditolak oleh masyarakat, dengan alasan tidak akan disukai oleh masyarakat. Padahal, me-mang pada dasarnya tidak ada orang yang suka men-dengarkan hal-hal ngeri apalagi disiksa. Jangankan siksa akhirat, cerita ten-tang penjara di dunia saja, lengkap dengan penyik-saan, pemukulan dan lain sebagainya, sudah cukup membuat bergidik. Itulah watak manusia, apa yang tidak enak me-mang tidak akan disukai.

Tetapi jangan karena hal itu, ancaman neraka menjadi disembu-nyikan, sebab ke-tika dia sadar bah-wa azab itu tidak enak, maka hal itu-lah yang menjadi titik tonggak mun-culnya rasa takut kepada Allah.

Rasa takut ini-lah yang telah men-dera batin Umar. Ia tersentuh ayat, bahwa orang yang bisa memahami al-Qur’an adalah o-rang yang takut kepada Allah. Ma-ka ketika rasa takutnya ke-pada Allah telah muncul, saat itulah ia melupakan kemarahan dan kejeng-kelannya. Kesadaran yang datang tiba-tiba itulah yang menyebabkan ia spontan bertanya kepada adiknya, “Dimana Muhammad sekarang?”. Adiknya balik bertanya, “Untuk apa kamu ber-tanya demikian?, kalau kamu ingin membunuh dia, sebagaimana kamu menganiaya aku, maka lebih kamu bunuh aku daripada kamu menemui Muhammad”.

Mentalitas yang di-tunjukkan oleh adik pe-rempuan Umar adalah mentalitas hasil gemble-ngan al-Qur’an. Lantaran rasa takut yang ia miliki kepada Allah, maka ia me-rasa lebih baik dirinya yang menjadi korban daripada harus mengorbankan utu-san Allah.

Inilah contoh sejarah cemerlang yang akan terus diangkat dengan rasa bang-ga sepanjang zaman. Bah-wa rasa takut kepada Allah akan memunculkan ke-cintaan kepada-Nya dan kitab suci-Nya, melahirkan pembelaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Sebagai-mana dia rela menerima tanggung jawab dari Allah untuk menyampaikan al-Qur’an itu.

Mendengar pekataan adiknya, Umar menyang-gah, “Tidak, aku tidak akan memusuhinya lagi”. Sehingga adiknya pun memberi tahu, “Dia se-dang berada di rumahnya Arqam”.

Begitulah, ketakutan kepada Allah akan mem-bangun keimanan yang te-guh. Sebaliknya, seseorang yang hatinya nihil dari rasa takut, tidak akan bisa diharapkan untuk mem-bangun keimanan, apalagi kemauan untuk membela agama Allah.



Hanyalah orang-o-rang yang sadar akan perlunya bekal untuk hari esok yang akan mau mem-perjuangkan agama Allah, memperjuangkan Syari’at Allah di tengah-tengah masyarakat yang meng-anggap bahwa al-Qur’an adalah pembawa mala-petaka, sebagaimana ang-gapan orang-orang Qu-raish.

Jadi, kalau masya-rakat Islam menganggap bahwa al-Qur’an hanyalah pembawa perpecahan, ma-ka orang itu pada hakikat-nya telah berkhianat ke-pada Islam. Karena Allah telah menyatakan bahwa al-Qur’an ini datang bukan untuk membuat manusia celaka dan saling ber-musuhan.

Namun kenyataan inilah yang dewasa ini se-ring menjadi tontonan. Orang-orang yang menga-ku Islam, dengan bangga mengatakan, “Kami ber-musuhan sebagai hasil bacaan kami terhadap al Qur’an”. Inilah manusia-manusia yang celaka.

Inilah yang harus di-jaga oleh Kaum Muslim, jangan sampai terjadi per-pecahan dengan alasan sama-sama menjalankan al-Qur’an. Bila hal ini ter-jadi, berarti tuduhan o-rang-orang kafir Quraish benar adanya. Tapi ben-dera yang harus dikibar-kan oleh Kaum Muslim adalah bendera yang dibawa oleh Rasulullah Saw, “wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamiin”.

Melalui keterangan di atas, diharapkan Kaum Muslim mampu meng-hayati tantangan dari ma-syarakat musyrik tentang al-Qur’an, serta bagaimana jawaban yang diberikan Allah kepada Nabi Mu-hammad Saw, tentang hakekat al-Qur’an ini. Setelah jelas bahwa al-Qur’an bukan untuk men-ciptakan kesengsaraan, dan tahu bahwa al-Qur’an hanya bisa diterima oleh orang-orang yang takut kepada Allah, ma-ka marilah segenap Kaum Muslim bersama-sama un-tuk mengikuti jejak Ra-sulullah dan para sahabat.

Aplikasi dari ke-sada-ran itu adalah kesediaan menyampaikan al-Qur’an secara terbuka, tidak perlu sembunyi-sembunyi, tidak perlu berbisik-bisik, tidak perlu hanya kepada kelom-poknya saja. Tetapi harus ada langkah spektakuler dengan menyampaikan al-Qur’an kepasar-pasar, ke-pada orang-orang kaya, ke rumah para pejabat, ke ru-mah orang-orang ber-kuasa, karena mereka itu-lah sasaran dakwah.

Bukan zamannya lagi main bisik-bisikan. Bukan-kah al-Qur’an diturunkan Allah bukan untuk dijadi-kan bahan bisikan, tetapi untuk disampaikan secara terbuka kepada siapa saja. Bukankah dalam menyam-paikan al-Qur’an yang dibutuhkan adalah percaya diri, bukan rasa minder. Dan bukankah menyam-paikan Islam tidak hanya dibatasi pada ruang masjid semata, atau dimushalla saja. Bila yang menjadi objek dakwah mempunyai rasa takut kepada Allah, maka do’a yang pantas terlontar adalah semoga mereka menjadi orang yang beriman. Amin



Artikel Ini Kerjasama antara:

Arrahmah.com dengan Risalah Mujahidin, Pelajar Islam Indonesia (PII) dan KARISMA

http://www.arrahmah.com

The State of Islamic Media


Reade more >>

Kisah berakhirnya Ma’alim fit-Thariq


Berikut ini sebuah kisah yang saya alami (Abu Mush’ab As-Suri). Saya ceritakan di sini hanya sebagai contoh saja karena pada saat ini banyak sekali bukti.

Sebelum saya pindah dari Suria menyusul ambruknya gerakan jihad, saya bergabung dengan organisasi jihad bernama Ath-Thali’ah Al-Muqatilah (Pandega Petempur). Nasib akhirnya menentukan saya menjadi anggota organisasi Ikhwanul Muslimin, lalu menjadi anggota komando militer Ikhwanul Muslimin pada 1980.

Ketika kami berada di Baghdad, karena kami adalah kader militer, kami tidak tahu apa pun yang direncanakan oleh komando sayap politik kami. Tiba-tiba, kami dikejutkan dengan keputusan penghentian aksi militer, pembubaran organisasi militer, dan mereka mengumunkan awal fase jihad politik.

Pada bulan Maret 1982 (setelah mereka menjadi penyebab kehancuran kota Hama dan setelah mujahidin di seantero Suria dihabisi), mereka mengumumkan berdirinya koalisi kebangsaan yang terdiri dari Ikhwanul Muslimin, Front Islam, kelompok ulama sufi independen, partai kanan Ba’ats yang ketika itu menginduk ke Irak dengan pelindung Saddam Husein, dan partai-partai sekuler sempalan.

Koalisi ini dimaksudkan untuk menghadang partai Ba’ats Suria yang beraliran kiri ala Naseer Mesir. Mereka membuat piagam “Islamis Sekuleris” sesuai dengan identitas partai pembentuknya. Setelah itu, koalisi diperluas lagi menjadi “Aliansi Nasional untuk Pembebasan Suria” dengan masuknya Rif’at Al-Asad (saudara Hafidz Asad) pengikut doktrin Naseer Presiden Mesir. Ya, Rif‘at yang pernah memimpin berbagai pembantaian dan penguburan massal Ikhwanul Muslimin dan kaum muslimin lainnya. Karena kini Rifat Al-Asad berubah menjadi oposisi bagi rezim yang dipimpin oleh saudaranya memperebutkan kekuasaan, ia pun diterima dalam koalisi nasional tersebut.

Arah politik ini, diikuti dengan manhaj dan fikih baru yang mengharuskan struktur tarbiyah Ikhwanul Muslimin mengajarkan-nya kepada para muhajidin. Syaikh Munir Al-Ghadhban samahahullah dari Ikhwanul Muslimin Suria menulis dalam buku barunya ‘At-Taha1uf As-Siyasi fil Islam ” dia harus mengoreksi tulisan-tulisannya. Ia bersama Syaikh Sa’id Hawa, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghaddah, dan ulama Ikhwanul muslimin Suria lainnya mengemban tugas sosialisasi fikih baru yang sesuai fase yang ada. Dalam fikih baru ini, istinbath-istinbath yang diambil dari perjanjian-perjanjian Rasulullah mengalami banyak penyimpangan.

Sampai-sampai, salah seorang murabbi senior Ikhwanul muslimin, pada waktu itu, berterus-terang kepada saya: “Saya punya problem besar. Bagaimana saya harus mengajarkan buku-buku yang mensejajarkan antara kita dan kaum sekuler kepada para pemuda dan menjelaskan piagam Aliansi Nasional kepada mereka, lalu sekaligus mengajarkan buku Ma’alim fi Ath-Thariq karya Sayyid Qutb?”

Bagi yang ingin mendapatkan lebih detil masalah ini, silahkan membaca buku saya Ats Tsaurah Al-Islamiyah Al-Jihadiyah fi Suriya: Alam wa Amal (Revolusi Islam Jihadi di Suria: Derita dan Harapan) yang diterbitkan tahun 1990.

Dalam waktu yang sama, pada tahun 1989, salah seorang instruktur Ikhwanul Muslimin Yordania di Amman bercerita kepada saya. Ketika Ikhwanul muslimin Yordania memutuskan untuk masuk dalam parlemen dan kabinet, yang berarti kekuasaan legislatif dan eksekutif di sisi Raja Hussein seperti disiarkan oleh Radio Amman, saudara kita ini bertutur kepada saya:

“Dengarlah lelucon berikut: Saya bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada awal tahun 70-an. Saya diminta untuk meyakini bahwa Raja Hussein kafir karena ia memerintah dengan hukum selain yang diturunkan Allah. Buku rujukan utama kami pada waktu itu adalah Ma’alim fi Ath-Thariq (karya Sayyid Qutb). Sebelumnya, saya sudah membaca sebagian buku-buku tafsir. Di sana saya menemukan pendapat sebagian tabi’in tentang masalah itu yang mengistilahkan dengan kufr duna kufr (perbuatan kufr, tapi tidak mengeluarkan seseorang dari agama atau kufr kecil).

Dengan dasar itu, saya pikir, raja Hussein tetap muslim, cuma fasik dan zalim, serta tidak kafir. Setelah pendapat saya diketahui oleh Ikhwanul Muslimin, saya diadili oleh pengadilan Ikhwan. Mereka memberi tempo kepada saya untuk mengubah pandangan saya akan tetap islamnya Raja Hussein atau kalau tidak mau, saya dikeluarkan dari Ikhwanul Muslimin! Pada saat penantian itu, status keanggotaan saya dibekukan.

Saya pun merenungkan hal itu dan Allah tunjukkan diriku seperti pandangan mereka. Saya pun menyatakan kekafiran Raja Hussein dan status keanggotaan saya diaktifkan kembali.

Selang beberapa tahun, saya menjadi instruktur Ikhwanul Muslimin dan saya ajarkan kepada para pemuda dalil-dalil kekafiran raja Hussein, baik yang saya nukil dari buku Ma’a-lim fi Ath-Thariq maupun dari buku-buku lain. Pada tahun 1989-1990, yakni setelah hampir dua puluh tahun dari peristiwa itu, Ikhwanul muslimin Yordania masuk parlemen dan beberapa di antara mereka menjadi anggota kabinet.

Ikhwanul Muslimin menulis karya dalam bidang fikih yang mengakui keislaman Raja Hussein dan membolehkan masuk parlemen. Sebagian mereka membolehkan masuk kabinet saja, namun melarang masuk parlemen. Ini (menurut mereka –padahal tidak benar- sesuai mazhab Nabi Yusuf) yang mau bekerja pada pemerintahan Fir’aun dan menjadi menteri perbendaharaan (keuangan) negara. Sementara, kelompok kedua berpendapat sebaliknya. Adapun kelompok ketiga, membolehkan masuk kedua institusi tersebut. Meski terdapat perbedaan pendapat, tetapi mereka semua sepakat atas keislaman Raja Hussein, hingga problem hukum yang masuk ke dalam pemerintahan bisa terselesaikan.”

Rekan saya tersebut menambahkan, “Namun, selama dua puluh tahun di Ikhwanul Muslimin, hati saya begitu yakin akan kekafiran Raja Hussein. Saya telah mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain. Lalu, bagaimana tiba-tiba sekarang saya harus menyatakan keislaman Raja Hussein hanya karena statemen organisasi? Saya pun kukuh dengan pendirian saya dan terkena pengadilan organisasi lagi. Saya diberi tempo untuk meyakini akan keislaman Raja Hussein dan bila tidak, saya akan dipecat dari organsasi! Selama masa tunggu tersebut, status keanggotaan saya dibekukan!”

Penulis bertanya, “Apa yang Anda lakukan?”

Ia menjawab, “Saya putuskan untuk melepas keanggotaan saya dari organisasi. Saya pun memutuskan status Ikhwanul Muslimin (nama organisasi) ini dibekukan sebagai ikhwanul muslimin (saudara sesama muslim—ed). Mereka tidak mungkin menjadi saudara-saudara saya dan saya tidak tahu apa yang tersisa pada diri mereka sebagai muslimin.”

Begitulah kaidah Murji’ah merasuk ke dalam tubuh ash-shahwah al-Islamiyyah. Dengan begitu mereka mengikuti kebiasaan ashabun nasi’ah (ajaran orang-orang yang mengundurkan bulan Haram) yang kadang dalam satu tahun mereka menetapkan bulan-bulan haram sebagai halal (berperang) dan pada satu tahun yang lain menetapkan bulan haram tetap haram, agar mereka bisa menebus bilangan bulan yang diharamkan. Inilah satu-satunya interpretasi tentang fenomena aliran Murji’ah politik. Dengan kata lain, hawa nafsu dalam politik dan seni segala sesuatu itu mungkin serta merayap di pintu-pintu penguasa. Dalam hadits disebutkan:

“Barang siapa mendatangi pintu-pintu penguasa, dia terfitnah” (HR Tirmidzi: 3356).

“Tidaklah seorang hamba yang semakin dekat kepada penguasa kecuali ia semakin jauh dari Allah.” (HR Ahmad: 9071).

Secara sederhana, begitulah faktanya. Para politikus Murji’ah yang berada di pintu-pintu penguasa itu telah terkena fitnah dan sangat jauh dari dasar-dasar syariah Allah. Secara bahasa sangat jelas, kata uftutina (terkena fitnah) berasal dari kata fatana, yaftinu. Pelakunya adalah fattan (yang memfitnah) dan maftun (yang difitnah).

Sebab kedua atau interpretasi kedua dari fenomena Murji’ah politik, adalah akibat cambuk algojo dalam penjara dan kebijakan interogasi ala “pisang” dan setrum listrik “cinderela” yang telah dijelaskan sebelumnya. Mereka lebih memilih bergabung dengan aliran Murji’ah daripada merasakan rasa sakit akibat aliran listrik 220 volt!

Interpretasi ketiga adalah setan dan bisikan-bisikannya. Demikianlah, di antara bisikan lblis, cambukan algojo yang keji, dan mencari kursi di parlemen yang hina, lahirlah fikih baru yang busuk. Di antara ketiga sebab itu pula, fuqaha penguasa dan dai yang menyimpang duduk-duduk di dalam institusi-institusi pemerintah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Selain itu, ada murji’ah jenis lain, yaitu murji’ah ulama munafik yang menyembunyikan hukum yang diturunkan Allah, padahal ia tahu tindakan itu salah. Mereka juga menjual dan mengganti syariah Allah, padahal ia ‘paham tindakan itu salah. Semua itu dilakukan hanya karena kilauan emas yang diberikan penguasa dan sifat rakus mereka. Allah berfirman,

“Fir’aun menjawab: Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)” (Asy-Syu’ara: 42).

Murji’ah jenis ini sudah begitu jelas dan tidak perlu didiskusikan lagi. Firman Allah telah memberitahukan kepada kita akan para pelakunya,

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al-Jumu’ah: 5)

Lebih jelas lagi dalam firman-Nya,

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab). Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda). Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-A’raf: 175-176).

(Sumber : As-Suri, Abu Mush’ab. Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2002 : sejarah, eksperimen, dan evaluasi, Solo : Jazera, 2009)

Reade more >>

Isu NII & media sekuler dzolimi umat Islam


Merebaknya isu Negara Islam Indonesia (NII) sudutkan dan dzolimi umat Islam. Media sekuler yang Islamphobia (anti/takut Islam) ikut memperkeruh suasana dengan pemberitaan yang menyudutkan dan tendensius. Salah satu kasusnya adalah isu ‘penyekapan’ Rohani Nurfitri (12) oleh NII yang kemudian berhasil meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang. Umat Islam kembali didzolimi!

Media sekuler diskriminatif dan tendensius

Isu Negara Islam Indonesia (NII) kembali sudutkan dan dzolimi umat Islam. Kondisi ini diperparah dengan maraknya pemberitaan media sekuler (Islampobhia) yang menyudutkan dan tendensius terhadap umat Islam. Media-media sekuler menurunkan judul yang provokatif dan menjerumuskan opini masyarakat dengan mengaitkan apa saja dan siapa saja kepada isu NII.

Salah satu kasusnya adalah isu ‘penyekapan’ Rohani Nurfitri (12) yang dikatakan telah dihipnotis dan disekap oleh jaringan NII, yang akhirnya meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang.

Metrotvnews.com di hari yang sama, Jum’at (29/4) menurunkan berita tersebut dengan judul “Seorang Gadis Cilik Pulang setelah Disekap 4 Tahun”. Dalam berita yang ditulis oleh Nur Cholis/RNN tersebut terlihat sumber berita baru dari satu fihak, yakni fihak Rohani Nurfitri. Fihak yang dituduhnya sebagai jaringan garis keras dan yang telah mendoktrin Nurfitri sama sekali tidak ditanyakan. Metrotvnews.com juga tidak mengkonfirmasi masalah Nurfitri kepada kakak-kakaknya yang juga dituduhkan hilang.

Media Indonesia on line lewat wartawannya Dede Susianti bahkan menulis pada hari Sabtu (30/04/2011) dengan judul lebih tendensius lagi memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Dia menulis dengan judul “Disekap Wanita Bercadar, Rohani Berhasil Kabur”. Dalam tulisan tersebut, disamping tidak akurat dengan mengatakan Rohani kembali ke pangkuan ayahnya bersama tiga saudara kandung lainnya, juga tidak mengkonfirmasi kepada fihak yang dituduhnya. Bahkan dengan seenaknya wartawan dengan kode OL-5 ini menuduh Rohani direkrut jaringan yang mengajarkan aliran sesat!

Konyolnya lagi, pada hari Senin (2/05/2011) harian Media Indonesia dengan wartawan yang sama, Dede Susianti, menurunkan tulisan dengan judul “Penyekapan Korban Hipnotis di Pamulang” yang dengan tendensius mengarahkan polisi agar segera bertindak. Bukti-bukti sudah cukup kuat, tapi polisi belum juga mengetok pintu rumah tempat penyekapan Rohani Nurfitri, korban hipnotis, tulis Media Indonesia.

Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Bachrumsyah, pemilik rumah yang selama ini menampung Rohani Nurfitri, kemarin, Ahad (1/05/2011) wartawan Media Indonesia yang mendatangi rumahnya bernama Afri, seorang lelaki berusia sekitar 28 tahun, bukan Dede Susianti. Pria bernama Afri ini kemudian bertanya panjang lebar tentang kasus Rohani Nurfitri yang diisukan disekap olehnya dan juga dihipnitos. Bachrumsyah sudah membantah isu hipnotis dan menjelaskan bahwa Rohani Nurfitri ditampung di rumahnya atas permintaan kakaknya, Ming Ming Sari Nuryanti alias Ukhti Muna yang telah dibantu sebelumnya. Anehnya lagi, seluruh hasil wawancara Bachrumsyah dengan lelaki bernama Afri yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia ini tidak satupun yang dimuat dalam berita yang diturunkan Media Indonesia, Senin (2/05/2011). Jadi, siapa sebenarnya Afri? Apakah dia juga berarti Dede Susianti?

Selain dua media di atas, dua media sekuler lainnya juga ikut-ikutan mendiskriditkan umat Islam. Liputan6.com menulis dengan judul “Bocah Belasan Tahun Kabur dari NII”. Berita yang diturunkan hari Sabtu (30/04/2011) ini secara serampangan menduga Rohani sebagai korban perekrutan jaringan kelompok Negara Islam Indonesia atau NII.

Harian Warta Kota, yang termasuk dalam jaringan media Kompas Gramedia bahkan secara lebay menurunkan tulisan di hari Senin (2/05/2011) dengan judul “ABG Disekap NII 3 Tahun”. Wartawannya Wid/kompas.com menulis : Rohani Nurfitri (12) berhasil meloloskan diri dari kelompok yang diduga aktivis Negara Islam Indonesia (NII) setelah disekap selama 3 tahun. Ia direkrut oleh kakak-kakaknya sendiri yang sudah lebih dulu dijerat NII.

Sama, semua media sekuler ini hanya bersumber dari satu fihak, yakni fihak Rohani Nurfitri saja dan ayahnya. Tidak ada klarifikasi dari fihak yang dituduh menyekap dan terkait NII, yakni fihak Bachrumsyah dan Ming Ming Sari Nuryanti. Kalaupun ada wawancara ke Bachrumsyah dari Media Indonesia, teryata semua hasil wawancara tersebut tidak satupun yang dimuat. Sungguh. media-media sekuler yang Islamphobia tersebut telah bersikap diskriminatif dan tendensius menuduh dan mendzolimi umat Islam!

Bachrumsyah : “Aliran kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah”

Bachrumsyah, lelaki yang dituduhkan menyekap Rohani Nurfitri menyatakan ke Arrahmah.com bahwa semua itu adalah dusta dan upaya mendiskriditkan dirinya yang memang aktif berdakwah dan melakukan aksi sosial lainnya. Kepada wartawan Media Indonesia yang datang ke rumahnya juga sudah disampaikan bahwa dia tidak pernah menghipnotis Nurfitri, menyekapnya, dan mengekangnya. Nurfitri dititipkan kepadanya oleh kakak-kakaknya, termasuk Ming Ming Sari Nuryanti, akibat ayah mereka kerap melakukan tindakan kekerasan.

Bachrumsyah mengungkapkan bahwa Rohani Nurfitri tidak pernah dilarang untuk keluar rumah, dan banyak tetangga yang bisa dijadikan saksi. Nurfitri juga disekolahkan, meskipun akhirnya dia sendiri yang menolak melanjutkan sekolah tersebut. Jadi, tidak benar berita yang mengatakan bahwa Nurfitri dikekang tidak boleh keluar kemana-mana.

Hal di atas dibenarkan oleh Ming Ming Sari Nuryanti kepada Arrahmah.com, bahkan dengan menunjukkan sebuah Surat Pernyataan yang ditanda tangani oleh Syaefudin, ayah Ming Ming dan juga ayah Rohani Nurfitri, di atas materai tertanggal 5 Oktober 2008. Dalam surat peryataan tersebut, Syaefudin, ayah Rohani Nurfitri berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut, yakni melakukan kekerasan/pemukulan terhadap anak-anaknya!

Ketika ditanya oleh Afri, lelaki yang mengaku wartawan Media Indonesia, “apa alirannya”, Bachrumsyah menjawab bahwa aliran dirinya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang mengikuti salafus sholeh, bukan NII. Bachrumsyah juga ditanya siapa pemimpinnya yang menggerakkan dirinya selama ini, apakah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, atau Ustadz Abu Jibriel, dan dijawabnya bahwa yang mengatur hidupnya selama ini adalah Al Qur’an.

Ming Ming Sari Nuryanti, secara khusus bahkan telah menulis bantahan yang juga diserahkan kepada Arrahmah.com untuk dipublikasian. Dalam bantahannya tersebut dia mengatakan :

“Saya Ming Ming sari Nuryanti dan kedua adik saya yaitu Lisa dan Melati dalam keadaan sehat wal afiat dan Allah masih berkenan melindungi kami, ini semua karena nikmat dan karunia Nya. Menanggapi pemberitan sepihak (metro tv, media Indonesia dan situs-situs internet) yang sedang berkembang tentang saya dan kedua adik saya, maka saya katakan…. Astaghfirullah, ini adalah berita bohong dan fitnah yang kejam”!

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa isu Negara Islam Indonesia (NII) telah dimanfaatkan untuk menyudutkan dan mendzolimi Islam dan kaum Muslimin dan diperkeruh oleh media-media sekuler yang Islamphobia dengan pemberitaan yang diskriminatif dan tendensius. Saatnya media Islam bersatu dan menghalau isu negatif dan murahan ini serta membantu saudara-saudara Muslimnya yang didzolimi. Allahu Akbar! (M Fachry/arrahmah.com)

Reade more >>

Kejanggalan mengenai syahidnya Syeikh Usamah semakin terkuak, Taliban Pakistan bantah kabar tersebut


PAKISTAN (Arrahmah.com) - Kabar mengenai syahidnya, Insha Allah, petinggi Al Qaeda, Syeikh Usamah bin Ladin yang diumumkan oleh Barack Obama laknatullah, semakin janggal. Beberapa laporan menunjukkan kontradiksi dengan pengumuman oleh teroris Amerika Serikat.

Media Rusia memberitakan bahwa Intelijen Pakistan mengabarkan bahwa Syeikh Usamah bin Ladin masih hidup dan berada dalam kondisi aman. Selain itu hingga kini AS belum memperlihatkan jasad dari Syeikh Usamah jika benar beliau telah meninggal. Sejauh ini hanya sebatas klaim yang diumumkan oleh AS.

AS mengklaim bahwa jenazah Syeikh Usamah akan ditenggelamkan dilaut, namun hingga kini belum ada laporan lanjutan dan belum ditunjukkan peti mati dari jenazah Syeikh Usamah.

Selain itu, pemerintah Pakistan juga tidak tahu-menahu mengenai “operasi” yang dilancarkan AS di kota Abbottabad. Pemerintah Pakistan baru mengetahuinya saat operasi sudah selesai dan diumumkan oleh Barack Obama. Bukankah ini merupakan suatu kejanggalan lainnya? Biasanya AS akan menggandeng bonekanya saat melakukan operasi di wilayah Pakistan, tapi kali ini “operasi” yang disebut-sebut telah dipersiapkan selama kurang lebih sembilan bulan, ditutupi dari otoritas AS.

Tehrik e Taliban bantah kabar kematian Syeikh Usamah

Kabar tandingan untuk membantah laporan kematian Syeikh Usamah juga datang dari wilayah Pakistan.

Mujahidin Taliban Pakistan dalam sebuah statemen yang keluar beberapa saat setelah AS mengumumkan kematian orang nomor satu Al Qaeda menyatakan bahwa Syeikh Usamah masih hidup.

Reporter Televisi Geo di Pakistan melaporkan kelompok Taliban menyatakan Usamah masih hidup dan laporan kematian itu sebagai tidak berdasar.

Berdasarkan pengamatan arrahmah.com, forum Islam Syamikh kini dapat kembali dibuka. Mereka menyarankan untuk tidak mempercayai semua berita dari media sekuler yang beredar.

Jihad tidak akan surut

Kabar kematian Syeikh Usamah bin Ladin jika memang benar, ternyata tidak menyurutkan semangat Mujahidin. Seperti yang dikatakan Abu Rusdan saat diwawancarai oleh TV one melalui sambungan telepon mengatakan bahwa Jihad tidak tergantung figur, akan tetap berlangsung sampai hari akhir.

“Kabar kematian Syeikh Usamah bin Ladin hafidzahullah, jika memang benar, tidak akan menyurutkan semangat Mujahidin di manapun ia berada, karena Jihad tidak tergantung oleh figur, Jihad akan terus berlangsung sampai hari akhir,” ujar Abu Rusdan.

Hingga saat ini kabar kematian Syeikh Usamah masih belum mendapat konfirmasi resmi dari Al Qaeda.

Apa yang ingin disembunyikan AS?

Entah apa yang ada dalam pikiran AS saat mengeluarkan pengumuman kematian Syeikh Usamah bin Ladin. Jika pengumuman mereka benar, mengapa mereka tidak secara gamblang mengeluarkan berbagai bukti yang dapat menguatkan klaimnya?

Apakah ini hanya sebuah bentuk kampanye oleh Obama untuk memperbaiki citra dan mengembalikan kepercayaan publik Amerika Serikat yang telah menurun terhadap dirinya menjelang kampanye mendatang?

Ataukah ini hanya bagian dari propaganda AS untuk menyembunyikan rasa malunya terkait kekalahan telak mereka di Afghanistan. Dengan kabar kematian ini, mereka akan memiliki alasan untuk menarik diri keluar dari Afghanistan tanpa rasa malu, wallahualam. (haninmazaya/arrahmah.com)

Reade more >>

Search

Kajian.Net