12 Mei 2011
3 Mei 2011
Menolak Kebenaran Awal Bencana dan Kekalahan
Tag
Fatwa Ulama'
“Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan kepada orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy). Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. Dan jika kamu mengeraskan ucapanmu, maka sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak di sembah) melainkan Dia, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik).” (Qs. Thaahaa, 20: 1-8)
TANGGUNG JAWAB risalah dakwah yang di-bebankan Allah Swt ke-pada Kaum Muslim, sebagaimana diamanah-kan kepada Rasulullah Saw, tentunya tidak akan terasa berat manakala Kaum Muslim mau mene-lusuri sejarah panjang kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabatnya, se-perti di paparkan dalam Al-Qur’anul Karim.
Ketika Umar ibn Khattab mencapai puncak kemarahannya kepada Rasulullah Saw dan Kaum Muslim, termasuk di antaranya adalah adik perempuannya sendiri, ia bergegas dengan pedang terhunus ditangan men-cari Rasulullah Saw, yang ia anggap mengganggu dan membuat masyarakat Makkah terpecah-belah. Yang tadinya tidak seorang pun berani mengatakan bahwa tradisi Jahiliah ada-lah tradisi terkutuk, tapi se-telah kedatangan Rasulul-lah Saw, suasana yang di-anggap telah tenang, da-mai, dan mapan selama ini, tiba-tiba diubah menjadi sesuatu yang membuat me-reka gempar. Bahkan mem-buat gigi graham mereka gemeretuk menahan ama-rah.
Api amarah yang di-usung oleh Umar dan orang-orang Quraish ha-nya akan padam bila di-bayar oleh melayangnya nyawa Muhammad. Begi-tulah gelora kebencian mereka kepada nabi yang dianggap sebagai biang segala kekacauan. Padahal mereka mengetahui bah-wa Muhammad adalah orang yang jujur. Tidak ada seorang dari bangsa Arab, bahkan dunia sekali-pun yang mendapat gelar Al-Amin, kecuali Muham-mad Rasulullah Saw. Hal ini membuktikan bahwa ternyata gelar dan pujian-pujian yang diberikan oleh Kaum Jahiliah tersebut tidak ada artinya, karena mereka mengingkari peng-hargaan yang mereka sematkan sendiri.
Tradisi-tradisi Jahi-liah yang selama ini me-reka jalankan dengan te-nang, tanpa ada koreksi dan teguran, ternyata di-babat habis oleh keda-tangan Muhammad yang mereka kenal paling jujur di muka bumi, paling halus dan lembut pekerti-nya, serta paling santun terhadap siapa saja. Bagi Umar, orang yang me-nyandang sekian banyak titel kemuliaan itu ternyata seorang pembawa bencana dan gangguan bagi me-reka. Umar merasa tak pantas berdiam diri saja, ia pun bersumpah untuk membunuh Rasulullah Saw.
Tetapi dengan takdir Allah Swt, gejolak dan kemarahan Umar dialih-kan dan disalurkan. Per-tama-tama, dengan api ke-marahan di ubun-ubun ia menuju rumah adik pe-rempuannya yang kala itu sedang belajar al-Qur’an.
Dari luar rumah ia mendengar ada suara, yang diantaranya adalah bacaan dari permulaan surat Thaahaa. Kema-rahannya ia lampiaskan dengan menempeleng adiknya dan membantik adik iparnya, hingga wajahnya lebam-lebam. Tetapi kemarahan Umar itu serta-merta reda karena kesadarannya tergugah ketika ia membaca sendiri catatan kecil yang berisi-kan beberapa ayat dari surat Thaahaa, yang ia rebut dari adiknya.
Apa sesungguhnya yang terjadi pada sosok Umar yang awalnya begitu anti Islam, berubah total menjadi pembela Islam, menjadi kekayaan Islam yang tiada tandingannya sampai hari kiamat?
Setelah di buka oleh ayat pertama, pada ayat kedua Allah menyatakan, “Wahai laki-laki (Muham-mad), Kami turunkan ke-padamu al-Qur’an bukan untuk membuat kamu celaka hidup di dunia”. Ayat ini menjadi bantahan Allah terhadap kaum Quraish yang berkeyakin-an bahwa Muhammad adalah manusia paling ce-laka, karena dia membawa al-Qur’an.
Melalui ayat ini Allah meyakinkan Nabi Saw, bahwa beliau dipilih dan diutus oleh Allah bukan untuk dicelakakan dan bukan pula untuk mene-rima musibah, sebagai-mana anggapan orang-orang Quraish dan Umar yang hendak membunuh beliau. Tetapi ada tujuan mulia, yaitu sebagaimana dinyatakan pada ayat ke-tiga, “Melainkan al-Qur’an ini diturunkan ke-pada kamu Muhammad supaya kamu menyam-paikan per-ingatan kepada orang yang masih punya takut kepada Allah”.
Ayat di atas berisi pe-negasan Allah yang sangat jelas, bahwa orang yang bisa diajak untuk meng-ikuti ajaran Islam hanya-lah orang-orang yang masih punya takut kepada Allah. Se-lebihnya tidak a-kan bisa.
Tanpa Paksaan
Mengajak se-mua manusia agar berkenan meng-ikuti jejak Rasulul-lah Saw adalah harapan yang mu-lia, tetapi Allah memperi- ngatkan bahwa hal itu ada-lah suatu yang mustahil. Yang bisa diajak hanya-lah orang-orang yang dalam hati-nya masih ada rasa takut kepada Allah. Dengan demikian, hati Nabi Saw menjadi lega karena tidak ada target point men-jadikan semua manusia memeluk Islam. Allah ti-dak menuntut Nabi Saw mengislamkan semua orang, karena hal itu bukan kewajiban beliau. Beliau hanyalah penyeru, bukan penentu Islam atau tidak-nya seseorang.
Adapun orang-orang yang tidak punya rasa ta-kut kepada Allah menjadi urusan-Nya. Dengan be-gitu Rasulullah Saw bisa mengangkat muka dalam menyampaikan dakwah Islam.
Tidak adanya tang-gung jawab kewajiban mengislamkan semua o-rang bagi Rasulullah Saw, juga berlaku bagi Kaum Muslim sekarang. Dengan demikian, Umat Islam tidak diperkenankan me-maksa orang untuk harus beragama Islam dan tun-duk kepada Allah.
Pemaksaan agar se-mua orang memeluk Islam tidak parlu dilakukan me-ngingat kekuasaan Allah yang begitu tinggi. Hal ini yang ditegaskan pada ayat yang keempat, “Dan Qur’an ini Muhammad, di-turunkan dari Tuhan yang menciptakan bumi dan yang menciptakan langit yang tinggi”. Islam atau tidaknya sese-orang, tidak ber-pengaruh terha-dap kekuasaan Allah.
Hal lain yang tersurat pada ayat keempat ini adalah Allah meyakinkan manusia bahwa al-Qur’an bukanlah buatan Muham-mad, bukan pula buatan jin, dukun, apalagi para pe-nyair. Tapi Allah lah yang men-ciptakan langit dan bumi. Ini jaminan Allah kepada Nabi Saw supaya beliau tidak ragu dan bimbang karena perlawanan manusia.
Adanya pene-gaskan jaminan dari Allah menim-bulkan keyakinan kuat pada diri Rasulullah Saw bahwa beliau tak akan mungkin mampu dikalah-kan oleh manusia. Karena manusia tidak mungkin dapat mengalahkan pen-cipta langit dan bumi. Itu berarti pula bahwa manu-sia juga tidak akan mung-kin mengalahkan al-Qur’an. Inilah cermin ter-besar bagi kaum Muslim, bahwa ketika mereka kon-sisten membawa al-Qur-’an, maka tidak akan ada seorang pun yang mampu mengalahkan mereka.
Jaminan uni-versal bagi kaum Muslim, ketika me-reka menyam-paikan al-Qur’an yang sebenarnya, adalah mereka ti-dak akan bisa ber-buat neko-neko (macam-macam). Konsekuensinya, manusia hanya a-kan menjalankan yang diperintahkan oleh Allah Swt. Dan dakwah yang ia sampaikan ada-lah dakwah jujur tanpa ada yang di-sembunyikan, dan tanpa ada yang di-takuti kecuali Allah Swt.
Urgensi rasa takut yang harus dimiliki oleh Kaum Muslim adalah lahirnya kewajiban me-nyampaikan adanya siksa neraka. Allah memberi-kan keyakinan, “liman yakhsya”, hanya orang takutlah yang kamu ajak. Sedangkan orang yang tidak mempunyai rasa ta-kut tidak akan mungkin terketuk hatinya. Oleh ka-rena itu, menyampaikan kepada setiap orang ten-tang neraka dan siksanya, wajib hukumnya. Karena hal itulah yang menjadi titik pangkal untuk mem-bersihkan hati manusia. Ketakutan akan siksa ne-raka dan alam akhirat akan melahirkan kebersihan jiwa.
Namun kenyataan-nya, cerita-cerita tentang pedihnya siksa neraka cenderung disembunyi-kan oleh sebagian besar juru dakwah dengan ala-san takut ditolak oleh masyarakat, dengan alasan tidak akan disukai oleh masyarakat. Padahal, me-mang pada dasarnya tidak ada orang yang suka men-dengarkan hal-hal ngeri apalagi disiksa. Jangankan siksa akhirat, cerita ten-tang penjara di dunia saja, lengkap dengan penyik-saan, pemukulan dan lain sebagainya, sudah cukup membuat bergidik. Itulah watak manusia, apa yang tidak enak me-mang tidak akan disukai.
Tetapi jangan karena hal itu, ancaman neraka menjadi disembu-nyikan, sebab ke-tika dia sadar bah-wa azab itu tidak enak, maka hal itu-lah yang menjadi titik tonggak mun-culnya rasa takut kepada Allah.
Rasa takut ini-lah yang telah men-dera batin Umar. Ia tersentuh ayat, bahwa orang yang bisa memahami al-Qur’an adalah o-rang yang takut kepada Allah. Ma-ka ketika rasa takutnya ke-pada Allah telah muncul, saat itulah ia melupakan kemarahan dan kejeng-kelannya. Kesadaran yang datang tiba-tiba itulah yang menyebabkan ia spontan bertanya kepada adiknya, “Dimana Muhammad sekarang?”. Adiknya balik bertanya, “Untuk apa kamu ber-tanya demikian?, kalau kamu ingin membunuh dia, sebagaimana kamu menganiaya aku, maka lebih kamu bunuh aku daripada kamu menemui Muhammad”.
Mentalitas yang di-tunjukkan oleh adik pe-rempuan Umar adalah mentalitas hasil gemble-ngan al-Qur’an. Lantaran rasa takut yang ia miliki kepada Allah, maka ia me-rasa lebih baik dirinya yang menjadi korban daripada harus mengorbankan utu-san Allah.
Inilah contoh sejarah cemerlang yang akan terus diangkat dengan rasa bang-ga sepanjang zaman. Bah-wa rasa takut kepada Allah akan memunculkan ke-cintaan kepada-Nya dan kitab suci-Nya, melahirkan pembelaan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Sebagai-mana dia rela menerima tanggung jawab dari Allah untuk menyampaikan al-Qur’an itu.
Mendengar pekataan adiknya, Umar menyang-gah, “Tidak, aku tidak akan memusuhinya lagi”. Sehingga adiknya pun memberi tahu, “Dia se-dang berada di rumahnya Arqam”.
Begitulah, ketakutan kepada Allah akan mem-bangun keimanan yang te-guh. Sebaliknya, seseorang yang hatinya nihil dari rasa takut, tidak akan bisa diharapkan untuk mem-bangun keimanan, apalagi kemauan untuk membela agama Allah.
Hanyalah orang-o-rang yang sadar akan perlunya bekal untuk hari esok yang akan mau mem-perjuangkan agama Allah, memperjuangkan Syari’at Allah di tengah-tengah masyarakat yang meng-anggap bahwa al-Qur’an adalah pembawa mala-petaka, sebagaimana ang-gapan orang-orang Qu-raish.
Jadi, kalau masya-rakat Islam menganggap bahwa al-Qur’an hanyalah pembawa perpecahan, ma-ka orang itu pada hakikat-nya telah berkhianat ke-pada Islam. Karena Allah telah menyatakan bahwa al-Qur’an ini datang bukan untuk membuat manusia celaka dan saling ber-musuhan.
Namun kenyataan inilah yang dewasa ini se-ring menjadi tontonan. Orang-orang yang menga-ku Islam, dengan bangga mengatakan, “Kami ber-musuhan sebagai hasil bacaan kami terhadap al Qur’an”. Inilah manusia-manusia yang celaka.
Inilah yang harus di-jaga oleh Kaum Muslim, jangan sampai terjadi per-pecahan dengan alasan sama-sama menjalankan al-Qur’an. Bila hal ini ter-jadi, berarti tuduhan o-rang-orang kafir Quraish benar adanya. Tapi ben-dera yang harus dikibar-kan oleh Kaum Muslim adalah bendera yang dibawa oleh Rasulullah Saw, “wamaa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamiin”.
Melalui keterangan di atas, diharapkan Kaum Muslim mampu meng-hayati tantangan dari ma-syarakat musyrik tentang al-Qur’an, serta bagaimana jawaban yang diberikan Allah kepada Nabi Mu-hammad Saw, tentang hakekat al-Qur’an ini. Setelah jelas bahwa al-Qur’an bukan untuk men-ciptakan kesengsaraan, dan tahu bahwa al-Qur’an hanya bisa diterima oleh orang-orang yang takut kepada Allah, ma-ka marilah segenap Kaum Muslim bersama-sama un-tuk mengikuti jejak Ra-sulullah dan para sahabat.
Aplikasi dari ke-sada-ran itu adalah kesediaan menyampaikan al-Qur’an secara terbuka, tidak perlu sembunyi-sembunyi, tidak perlu berbisik-bisik, tidak perlu hanya kepada kelom-poknya saja. Tetapi harus ada langkah spektakuler dengan menyampaikan al-Qur’an kepasar-pasar, ke-pada orang-orang kaya, ke rumah para pejabat, ke ru-mah orang-orang ber-kuasa, karena mereka itu-lah sasaran dakwah.
Bukan zamannya lagi main bisik-bisikan. Bukan-kah al-Qur’an diturunkan Allah bukan untuk dijadi-kan bahan bisikan, tetapi untuk disampaikan secara terbuka kepada siapa saja. Bukankah dalam menyam-paikan al-Qur’an yang dibutuhkan adalah percaya diri, bukan rasa minder. Dan bukankah menyam-paikan Islam tidak hanya dibatasi pada ruang masjid semata, atau dimushalla saja. Bila yang menjadi objek dakwah mempunyai rasa takut kepada Allah, maka do’a yang pantas terlontar adalah semoga mereka menjadi orang yang beriman. Amin
Artikel Ini Kerjasama antara:
Arrahmah.com dengan Risalah Mujahidin, Pelajar Islam Indonesia (PII) dan KARISMA
http://www.arrahmah.com
The State of Islamic Media
Kisah berakhirnya Ma’alim fit-Thariq
Tag
Biografi
Berikut ini sebuah kisah yang saya alami (Abu Mush’ab As-Suri). Saya ceritakan di sini hanya sebagai contoh saja karena pada saat ini banyak sekali bukti.
Sebelum saya pindah dari Suria menyusul ambruknya gerakan jihad, saya bergabung dengan organisasi jihad bernama Ath-Thali’ah Al-Muqatilah (Pandega Petempur). Nasib akhirnya menentukan saya menjadi anggota organisasi Ikhwanul Muslimin, lalu menjadi anggota komando militer Ikhwanul Muslimin pada 1980.
Ketika kami berada di Baghdad, karena kami adalah kader militer, kami tidak tahu apa pun yang direncanakan oleh komando sayap politik kami. Tiba-tiba, kami dikejutkan dengan keputusan penghentian aksi militer, pembubaran organisasi militer, dan mereka mengumunkan awal fase jihad politik.
Pada bulan Maret 1982 (setelah mereka menjadi penyebab kehancuran kota Hama dan setelah mujahidin di seantero Suria dihabisi), mereka mengumumkan berdirinya koalisi kebangsaan yang terdiri dari Ikhwanul Muslimin, Front Islam, kelompok ulama sufi independen, partai kanan Ba’ats yang ketika itu menginduk ke Irak dengan pelindung Saddam Husein, dan partai-partai sekuler sempalan.
Koalisi ini dimaksudkan untuk menghadang partai Ba’ats Suria yang beraliran kiri ala Naseer Mesir. Mereka membuat piagam “Islamis Sekuleris” sesuai dengan identitas partai pembentuknya. Setelah itu, koalisi diperluas lagi menjadi “Aliansi Nasional untuk Pembebasan Suria” dengan masuknya Rif’at Al-Asad (saudara Hafidz Asad) pengikut doktrin Naseer Presiden Mesir. Ya, Rif‘at yang pernah memimpin berbagai pembantaian dan penguburan massal Ikhwanul Muslimin dan kaum muslimin lainnya. Karena kini Rifat Al-Asad berubah menjadi oposisi bagi rezim yang dipimpin oleh saudaranya memperebutkan kekuasaan, ia pun diterima dalam koalisi nasional tersebut.
Arah politik ini, diikuti dengan manhaj dan fikih baru yang mengharuskan struktur tarbiyah Ikhwanul Muslimin mengajarkan-nya kepada para muhajidin. Syaikh Munir Al-Ghadhban samahahullah dari Ikhwanul Muslimin Suria menulis dalam buku barunya ‘At-Taha1uf As-Siyasi fil Islam ” dia harus mengoreksi tulisan-tulisannya. Ia bersama Syaikh Sa’id Hawa, Syaikh Abdul Fattah Abu Ghaddah, dan ulama Ikhwanul muslimin Suria lainnya mengemban tugas sosialisasi fikih baru yang sesuai fase yang ada. Dalam fikih baru ini, istinbath-istinbath yang diambil dari perjanjian-perjanjian Rasulullah mengalami banyak penyimpangan.
Sampai-sampai, salah seorang murabbi senior Ikhwanul muslimin, pada waktu itu, berterus-terang kepada saya: “Saya punya problem besar. Bagaimana saya harus mengajarkan buku-buku yang mensejajarkan antara kita dan kaum sekuler kepada para pemuda dan menjelaskan piagam Aliansi Nasional kepada mereka, lalu sekaligus mengajarkan buku Ma’alim fi Ath-Thariq karya Sayyid Qutb?”
Bagi yang ingin mendapatkan lebih detil masalah ini, silahkan membaca buku saya Ats Tsaurah Al-Islamiyah Al-Jihadiyah fi Suriya: Alam wa Amal (Revolusi Islam Jihadi di Suria: Derita dan Harapan) yang diterbitkan tahun 1990.
Dalam waktu yang sama, pada tahun 1989, salah seorang instruktur Ikhwanul Muslimin Yordania di Amman bercerita kepada saya. Ketika Ikhwanul muslimin Yordania memutuskan untuk masuk dalam parlemen dan kabinet, yang berarti kekuasaan legislatif dan eksekutif di sisi Raja Hussein seperti disiarkan oleh Radio Amman, saudara kita ini bertutur kepada saya:
“Dengarlah lelucon berikut: Saya bergabung dengan Ikhwanul Muslimin pada awal tahun 70-an. Saya diminta untuk meyakini bahwa Raja Hussein kafir karena ia memerintah dengan hukum selain yang diturunkan Allah. Buku rujukan utama kami pada waktu itu adalah Ma’alim fi Ath-Thariq (karya Sayyid Qutb). Sebelumnya, saya sudah membaca sebagian buku-buku tafsir. Di sana saya menemukan pendapat sebagian tabi’in tentang masalah itu yang mengistilahkan dengan kufr duna kufr (perbuatan kufr, tapi tidak mengeluarkan seseorang dari agama atau kufr kecil).
Dengan dasar itu, saya pikir, raja Hussein tetap muslim, cuma fasik dan zalim, serta tidak kafir. Setelah pendapat saya diketahui oleh Ikhwanul Muslimin, saya diadili oleh pengadilan Ikhwan. Mereka memberi tempo kepada saya untuk mengubah pandangan saya akan tetap islamnya Raja Hussein atau kalau tidak mau, saya dikeluarkan dari Ikhwanul Muslimin! Pada saat penantian itu, status keanggotaan saya dibekukan.
Saya pun merenungkan hal itu dan Allah tunjukkan diriku seperti pandangan mereka. Saya pun menyatakan kekafiran Raja Hussein dan status keanggotaan saya diaktifkan kembali.
Selang beberapa tahun, saya menjadi instruktur Ikhwanul Muslimin dan saya ajarkan kepada para pemuda dalil-dalil kekafiran raja Hussein, baik yang saya nukil dari buku Ma’a-lim fi Ath-Thariq maupun dari buku-buku lain. Pada tahun 1989-1990, yakni setelah hampir dua puluh tahun dari peristiwa itu, Ikhwanul muslimin Yordania masuk parlemen dan beberapa di antara mereka menjadi anggota kabinet.
Ikhwanul Muslimin menulis karya dalam bidang fikih yang mengakui keislaman Raja Hussein dan membolehkan masuk parlemen. Sebagian mereka membolehkan masuk kabinet saja, namun melarang masuk parlemen. Ini (menurut mereka –padahal tidak benar- sesuai mazhab Nabi Yusuf) yang mau bekerja pada pemerintahan Fir’aun dan menjadi menteri perbendaharaan (keuangan) negara. Sementara, kelompok kedua berpendapat sebaliknya. Adapun kelompok ketiga, membolehkan masuk kedua institusi tersebut. Meski terdapat perbedaan pendapat, tetapi mereka semua sepakat atas keislaman Raja Hussein, hingga problem hukum yang masuk ke dalam pemerintahan bisa terselesaikan.”
Rekan saya tersebut menambahkan, “Namun, selama dua puluh tahun di Ikhwanul Muslimin, hati saya begitu yakin akan kekafiran Raja Hussein. Saya telah mempelajari dan mengajarkannya kepada orang lain. Lalu, bagaimana tiba-tiba sekarang saya harus menyatakan keislaman Raja Hussein hanya karena statemen organisasi? Saya pun kukuh dengan pendirian saya dan terkena pengadilan organisasi lagi. Saya diberi tempo untuk meyakini akan keislaman Raja Hussein dan bila tidak, saya akan dipecat dari organsasi! Selama masa tunggu tersebut, status keanggotaan saya dibekukan!”
Penulis bertanya, “Apa yang Anda lakukan?”
Ia menjawab, “Saya putuskan untuk melepas keanggotaan saya dari organisasi. Saya pun memutuskan status Ikhwanul Muslimin (nama organisasi) ini dibekukan sebagai ikhwanul muslimin (saudara sesama muslim—ed). Mereka tidak mungkin menjadi saudara-saudara saya dan saya tidak tahu apa yang tersisa pada diri mereka sebagai muslimin.”
Begitulah kaidah Murji’ah merasuk ke dalam tubuh ash-shahwah al-Islamiyyah. Dengan begitu mereka mengikuti kebiasaan ashabun nasi’ah (ajaran orang-orang yang mengundurkan bulan Haram) yang kadang dalam satu tahun mereka menetapkan bulan-bulan haram sebagai halal (berperang) dan pada satu tahun yang lain menetapkan bulan haram tetap haram, agar mereka bisa menebus bilangan bulan yang diharamkan. Inilah satu-satunya interpretasi tentang fenomena aliran Murji’ah politik. Dengan kata lain, hawa nafsu dalam politik dan seni segala sesuatu itu mungkin serta merayap di pintu-pintu penguasa. Dalam hadits disebutkan:
“Barang siapa mendatangi pintu-pintu penguasa, dia terfitnah” (HR Tirmidzi: 3356).
“Tidaklah seorang hamba yang semakin dekat kepada penguasa kecuali ia semakin jauh dari Allah.” (HR Ahmad: 9071).
Secara sederhana, begitulah faktanya. Para politikus Murji’ah yang berada di pintu-pintu penguasa itu telah terkena fitnah dan sangat jauh dari dasar-dasar syariah Allah. Secara bahasa sangat jelas, kata uftutina (terkena fitnah) berasal dari kata fatana, yaftinu. Pelakunya adalah fattan (yang memfitnah) dan maftun (yang difitnah).
Sebab kedua atau interpretasi kedua dari fenomena Murji’ah politik, adalah akibat cambuk algojo dalam penjara dan kebijakan interogasi ala “pisang” dan setrum listrik “cinderela” yang telah dijelaskan sebelumnya. Mereka lebih memilih bergabung dengan aliran Murji’ah daripada merasakan rasa sakit akibat aliran listrik 220 volt!
Interpretasi ketiga adalah setan dan bisikan-bisikannya. Demikianlah, di antara bisikan lblis, cambukan algojo yang keji, dan mencari kursi di parlemen yang hina, lahirlah fikih baru yang busuk. Di antara ketiga sebab itu pula, fuqaha penguasa dan dai yang menyimpang duduk-duduk di dalam institusi-institusi pemerintah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Selain itu, ada murji’ah jenis lain, yaitu murji’ah ulama munafik yang menyembunyikan hukum yang diturunkan Allah, padahal ia tahu tindakan itu salah. Mereka juga menjual dan mengganti syariah Allah, padahal ia ‘paham tindakan itu salah. Semua itu dilakukan hanya karena kilauan emas yang diberikan penguasa dan sifat rakus mereka. Allah berfirman,
“Fir’aun menjawab: Ya, kalau demikian, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan menjadi orang yang didekatkan (kepadaku)” (Asy-Syu’ara: 42).
Murji’ah jenis ini sudah begitu jelas dan tidak perlu didiskusikan lagi. Firman Allah telah memberitahukan kepada kita akan para pelakunya,
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Al-Jumu’ah: 5)
Lebih jelas lagi dalam firman-Nya,
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab). Kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda). Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah. Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (Al-A’raf: 175-176).
(Sumber : As-Suri, Abu Mush’ab. Perjalanan Gerakan Jihad 1930-2002 : sejarah, eksperimen, dan evaluasi, Solo : Jazera, 2009)
Isu NII & media sekuler dzolimi umat Islam
Tag
Wacana
Merebaknya isu Negara Islam Indonesia (NII) sudutkan dan dzolimi umat Islam. Media sekuler yang Islamphobia (anti/takut Islam) ikut memperkeruh suasana dengan pemberitaan yang menyudutkan dan tendensius. Salah satu kasusnya adalah isu ‘penyekapan’ Rohani Nurfitri (12) oleh NII yang kemudian berhasil meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang. Umat Islam kembali didzolimi!
Media sekuler diskriminatif dan tendensius
Isu Negara Islam Indonesia (NII) kembali sudutkan dan dzolimi umat Islam. Kondisi ini diperparah dengan maraknya pemberitaan media sekuler (Islampobhia) yang menyudutkan dan tendensius terhadap umat Islam. Media-media sekuler menurunkan judul yang provokatif dan menjerumuskan opini masyarakat dengan mengaitkan apa saja dan siapa saja kepada isu NII.
Salah satu kasusnya adalah isu ‘penyekapan’ Rohani Nurfitri (12) yang dikatakan telah dihipnotis dan disekap oleh jaringan NII, yang akhirnya meloloskan diri pada hari Jum’at (29/4/2011) di Pamulang.
Metrotvnews.com di hari yang sama, Jum’at (29/4) menurunkan berita tersebut dengan judul “Seorang Gadis Cilik Pulang setelah Disekap 4 Tahun”. Dalam berita yang ditulis oleh Nur Cholis/RNN tersebut terlihat sumber berita baru dari satu fihak, yakni fihak Rohani Nurfitri. Fihak yang dituduhnya sebagai jaringan garis keras dan yang telah mendoktrin Nurfitri sama sekali tidak ditanyakan. Metrotvnews.com juga tidak mengkonfirmasi masalah Nurfitri kepada kakak-kakaknya yang juga dituduhkan hilang.
Media Indonesia on line lewat wartawannya Dede Susianti bahkan menulis pada hari Sabtu (30/04/2011) dengan judul lebih tendensius lagi memojokkan Islam dan kaum Muslimin. Dia menulis dengan judul “Disekap Wanita Bercadar, Rohani Berhasil Kabur”. Dalam tulisan tersebut, disamping tidak akurat dengan mengatakan Rohani kembali ke pangkuan ayahnya bersama tiga saudara kandung lainnya, juga tidak mengkonfirmasi kepada fihak yang dituduhnya. Bahkan dengan seenaknya wartawan dengan kode OL-5 ini menuduh Rohani direkrut jaringan yang mengajarkan aliran sesat!
Konyolnya lagi, pada hari Senin (2/05/2011) harian Media Indonesia dengan wartawan yang sama, Dede Susianti, menurunkan tulisan dengan judul “Penyekapan Korban Hipnotis di Pamulang” yang dengan tendensius mengarahkan polisi agar segera bertindak. Bukti-bukti sudah cukup kuat, tapi polisi belum juga mengetok pintu rumah tempat penyekapan Rohani Nurfitri, korban hipnotis, tulis Media Indonesia.
Padahal, sebagaimana disampaikan oleh Bachrumsyah, pemilik rumah yang selama ini menampung Rohani Nurfitri, kemarin, Ahad (1/05/2011) wartawan Media Indonesia yang mendatangi rumahnya bernama Afri, seorang lelaki berusia sekitar 28 tahun, bukan Dede Susianti. Pria bernama Afri ini kemudian bertanya panjang lebar tentang kasus Rohani Nurfitri yang diisukan disekap olehnya dan juga dihipnitos. Bachrumsyah sudah membantah isu hipnotis dan menjelaskan bahwa Rohani Nurfitri ditampung di rumahnya atas permintaan kakaknya, Ming Ming Sari Nuryanti alias Ukhti Muna yang telah dibantu sebelumnya. Anehnya lagi, seluruh hasil wawancara Bachrumsyah dengan lelaki bernama Afri yang mengaku sebagai wartawan Media Indonesia ini tidak satupun yang dimuat dalam berita yang diturunkan Media Indonesia, Senin (2/05/2011). Jadi, siapa sebenarnya Afri? Apakah dia juga berarti Dede Susianti?
Selain dua media di atas, dua media sekuler lainnya juga ikut-ikutan mendiskriditkan umat Islam. Liputan6.com menulis dengan judul “Bocah Belasan Tahun Kabur dari NII”. Berita yang diturunkan hari Sabtu (30/04/2011) ini secara serampangan menduga Rohani sebagai korban perekrutan jaringan kelompok Negara Islam Indonesia atau NII.
Harian Warta Kota, yang termasuk dalam jaringan media Kompas Gramedia bahkan secara lebay menurunkan tulisan di hari Senin (2/05/2011) dengan judul “ABG Disekap NII 3 Tahun”. Wartawannya Wid/kompas.com menulis : Rohani Nurfitri (12) berhasil meloloskan diri dari kelompok yang diduga aktivis Negara Islam Indonesia (NII) setelah disekap selama 3 tahun. Ia direkrut oleh kakak-kakaknya sendiri yang sudah lebih dulu dijerat NII.
Sama, semua media sekuler ini hanya bersumber dari satu fihak, yakni fihak Rohani Nurfitri saja dan ayahnya. Tidak ada klarifikasi dari fihak yang dituduh menyekap dan terkait NII, yakni fihak Bachrumsyah dan Ming Ming Sari Nuryanti. Kalaupun ada wawancara ke Bachrumsyah dari Media Indonesia, teryata semua hasil wawancara tersebut tidak satupun yang dimuat. Sungguh. media-media sekuler yang Islamphobia tersebut telah bersikap diskriminatif dan tendensius menuduh dan mendzolimi umat Islam!
Bachrumsyah : “Aliran kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah”
Bachrumsyah, lelaki yang dituduhkan menyekap Rohani Nurfitri menyatakan ke Arrahmah.com bahwa semua itu adalah dusta dan upaya mendiskriditkan dirinya yang memang aktif berdakwah dan melakukan aksi sosial lainnya. Kepada wartawan Media Indonesia yang datang ke rumahnya juga sudah disampaikan bahwa dia tidak pernah menghipnotis Nurfitri, menyekapnya, dan mengekangnya. Nurfitri dititipkan kepadanya oleh kakak-kakaknya, termasuk Ming Ming Sari Nuryanti, akibat ayah mereka kerap melakukan tindakan kekerasan.
Bachrumsyah mengungkapkan bahwa Rohani Nurfitri tidak pernah dilarang untuk keluar rumah, dan banyak tetangga yang bisa dijadikan saksi. Nurfitri juga disekolahkan, meskipun akhirnya dia sendiri yang menolak melanjutkan sekolah tersebut. Jadi, tidak benar berita yang mengatakan bahwa Nurfitri dikekang tidak boleh keluar kemana-mana.
Hal di atas dibenarkan oleh Ming Ming Sari Nuryanti kepada Arrahmah.com, bahkan dengan menunjukkan sebuah Surat Pernyataan yang ditanda tangani oleh Syaefudin, ayah Ming Ming dan juga ayah Rohani Nurfitri, di atas materai tertanggal 5 Oktober 2008. Dalam surat peryataan tersebut, Syaefudin, ayah Rohani Nurfitri berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan tersebut, yakni melakukan kekerasan/pemukulan terhadap anak-anaknya!
Ketika ditanya oleh Afri, lelaki yang mengaku wartawan Media Indonesia, “apa alirannya”, Bachrumsyah menjawab bahwa aliran dirinya adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang mengikuti salafus sholeh, bukan NII. Bachrumsyah juga ditanya siapa pemimpinnya yang menggerakkan dirinya selama ini, apakah Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, atau Ustadz Abu Jibriel, dan dijawabnya bahwa yang mengatur hidupnya selama ini adalah Al Qur’an.
Ming Ming Sari Nuryanti, secara khusus bahkan telah menulis bantahan yang juga diserahkan kepada Arrahmah.com untuk dipublikasian. Dalam bantahannya tersebut dia mengatakan :
“Saya Ming Ming sari Nuryanti dan kedua adik saya yaitu Lisa dan Melati dalam keadaan sehat wal afiat dan Allah masih berkenan melindungi kami, ini semua karena nikmat dan karunia Nya. Menanggapi pemberitan sepihak (metro tv, media Indonesia dan situs-situs internet) yang sedang berkembang tentang saya dan kedua adik saya, maka saya katakan…. Astaghfirullah, ini adalah berita bohong dan fitnah yang kejam”!
Dengan demikian bisa dikatakan bahwa isu Negara Islam Indonesia (NII) telah dimanfaatkan untuk menyudutkan dan mendzolimi Islam dan kaum Muslimin dan diperkeruh oleh media-media sekuler yang Islamphobia dengan pemberitaan yang diskriminatif dan tendensius. Saatnya media Islam bersatu dan menghalau isu negatif dan murahan ini serta membantu saudara-saudara Muslimnya yang didzolimi. Allahu Akbar! (M Fachry/arrahmah.com)
Kejanggalan mengenai syahidnya Syeikh Usamah semakin terkuak, Taliban Pakistan bantah kabar tersebut
Tag
INTERNASIONAL
PAKISTAN (Arrahmah.com) - Kabar mengenai syahidnya, Insha Allah, petinggi Al Qaeda, Syeikh Usamah bin Ladin yang diumumkan oleh Barack Obama laknatullah, semakin janggal. Beberapa laporan menunjukkan kontradiksi dengan pengumuman oleh teroris Amerika Serikat.
Media Rusia memberitakan bahwa Intelijen Pakistan mengabarkan bahwa Syeikh Usamah bin Ladin masih hidup dan berada dalam kondisi aman. Selain itu hingga kini AS belum memperlihatkan jasad dari Syeikh Usamah jika benar beliau telah meninggal. Sejauh ini hanya sebatas klaim yang diumumkan oleh AS.
AS mengklaim bahwa jenazah Syeikh Usamah akan ditenggelamkan dilaut, namun hingga kini belum ada laporan lanjutan dan belum ditunjukkan peti mati dari jenazah Syeikh Usamah.
Selain itu, pemerintah Pakistan juga tidak tahu-menahu mengenai “operasi” yang dilancarkan AS di kota Abbottabad. Pemerintah Pakistan baru mengetahuinya saat operasi sudah selesai dan diumumkan oleh Barack Obama. Bukankah ini merupakan suatu kejanggalan lainnya? Biasanya AS akan menggandeng bonekanya saat melakukan operasi di wilayah Pakistan, tapi kali ini “operasi” yang disebut-sebut telah dipersiapkan selama kurang lebih sembilan bulan, ditutupi dari otoritas AS.
Tehrik e Taliban bantah kabar kematian Syeikh Usamah
Kabar tandingan untuk membantah laporan kematian Syeikh Usamah juga datang dari wilayah Pakistan.
Mujahidin Taliban Pakistan dalam sebuah statemen yang keluar beberapa saat setelah AS mengumumkan kematian orang nomor satu Al Qaeda menyatakan bahwa Syeikh Usamah masih hidup.
Reporter Televisi Geo di Pakistan melaporkan kelompok Taliban menyatakan Usamah masih hidup dan laporan kematian itu sebagai tidak berdasar.
Berdasarkan pengamatan arrahmah.com, forum Islam Syamikh kini dapat kembali dibuka. Mereka menyarankan untuk tidak mempercayai semua berita dari media sekuler yang beredar.
Jihad tidak akan surut
Kabar kematian Syeikh Usamah bin Ladin jika memang benar, ternyata tidak menyurutkan semangat Mujahidin. Seperti yang dikatakan Abu Rusdan saat diwawancarai oleh TV one melalui sambungan telepon mengatakan bahwa Jihad tidak tergantung figur, akan tetap berlangsung sampai hari akhir.
“Kabar kematian Syeikh Usamah bin Ladin hafidzahullah, jika memang benar, tidak akan menyurutkan semangat Mujahidin di manapun ia berada, karena Jihad tidak tergantung oleh figur, Jihad akan terus berlangsung sampai hari akhir,” ujar Abu Rusdan.
Hingga saat ini kabar kematian Syeikh Usamah masih belum mendapat konfirmasi resmi dari Al Qaeda.
Apa yang ingin disembunyikan AS?
Entah apa yang ada dalam pikiran AS saat mengeluarkan pengumuman kematian Syeikh Usamah bin Ladin. Jika pengumuman mereka benar, mengapa mereka tidak secara gamblang mengeluarkan berbagai bukti yang dapat menguatkan klaimnya?
Apakah ini hanya sebuah bentuk kampanye oleh Obama untuk memperbaiki citra dan mengembalikan kepercayaan publik Amerika Serikat yang telah menurun terhadap dirinya menjelang kampanye mendatang?
Ataukah ini hanya bagian dari propaganda AS untuk menyembunyikan rasa malunya terkait kekalahan telak mereka di Afghanistan. Dengan kabar kematian ini, mereka akan memiliki alasan untuk menarik diri keluar dari Afghanistan tanpa rasa malu, wallahualam. (haninmazaya/arrahmah.com)
Syeikh Usamah (sangat) tak layak dibenci
Tag
INTERNASIONAL
Rasul Arasy
JAKARTA (Arrahmah.com) – Beberapa saat setelah dilansirnya berita tentang terbunuhnya (syahid, insha Allah) Syeikh Osama Bin Laden, media, para tokoh masyarakat, dan pemerintah berusaha menggiring opini bahwa Syeikh Osama adalah tokoh yang wajib dimusuhi dan kita patut bergembira dengan meninggalnya “sang musuh”.
DPR mengingatkan agar pemerintah tetap mewaspadi terorisme pasca-kabar syahid-nya Syeikh Osama bin Laden dengan pertimbangan bahwa terorisme di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat.
“Benar bahwa Osama adalah inspirator teroris dunia tapi untuk di Indonesia mengarah pada terorisme baru,” kata Wakil Ketua DPR bidang Polhukam Priyo Budi Santoso di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin (2/5/2011).
Senada dengan Priyo, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj mengatakan, ”Jangan terlalu larut dalam kegembiraan atas kematian Osama, karena kematiannya tidak lantas membuat radikalisme lenyap dari muka bumi ini,” kata Said Aqil di Jakarta, Senin (2/5).
Menurut Said, radikalisme sudah ada sejak zaman dulu dan akan terus ada. Pasukan Amerika Serikat hanya berhasil membunuh Syeikh Osama, bukan mematikan radikalisme.
“Kita harus tetap waspada, karena radikalisme sudah ada sejak dulu dan akan terus ada. Persoalannya adalah apakah radikalisme itu tumbuh subur atau tidak. Ini tergantung bagaimana kita membendungnya,” katanya.
“Konsistensi dan komitmen menolak radikalisme tidak boleh pudar. Kita tidak boleh berkata lelah untuk menolak ajaran-ajaran radikal,” kata Said Aqil.
Menurutnya, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membatasi ajaran radikal adalah melalui pendekatan konsititusi, pendekatan sosial, dan pendekatan keamanan sebagai langkah terakhir. “Masyarakat harus diingatkan kembali bahwa Indonesia dengan adat ketimurannya adalah bangsa yang santun dan ramah, jauh dari radikalisme. Begitu pula bentuk negara ini adalah NKRI. Ini sudah final,” katanya.
Para pelajar juga harus diperkuat nasionalismenya dengan menjelaskan arti pentingnya Pancasila sebagai dasar negara.
“Radikalisme” versi siapa?
Manusia memang hanya bisa berkomentar. Para tokoh berbicara tentang jihad, membela agama, dan radikalisme pada saat mereka duduk santai dan merasakan tidur enak di kasur yang empuk. Pernahkah para tokoh agama kita terjun langsung melihat kenyataan di kancah perang Afganistan? Palestina? Dan Chechnya?
Pada dasarnya para tokoh agama kita tak ubahnya dengan komentator sebuah acara televisi. Hanya bisa berkomentar tapi tak pernah bisa mempraktekkan. Apalagi yang dikatakan oleh mereka hanyalah kalimat-kalimat copy paste dari media-media liberal yang memang beragenda menggiring kaum muslimin untuk membenci dan memusuhi saudaranya sendiri.
Mereka berkoar-koar tentang “kejahatan” Syeikh Osama, tetapi pernahkah mereka mengenali pribadi beliau? Syeikh Osama yang berasal dari keluarga jutawan tetapi lebih memilih zuhud dan menyerahkan jiwa raganya untuk jihad dan Islam.
Seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Abdullah Azzam dalam ‘The Lofty Mountain’, “Orang-orang Afganistan melihat orang arab layaknya seorang lelaki yang meninggalkan perniagaannya, pekerjaannya dan perusahaannya di Saudi Arabia, atau di teluk Yordania, dan hidup dengan kehidupan roti dan teh basi di puncak-puncak pegunungan. Dan mereka akan melihat Usamah Bin Ladin layaknya seorang lelaki yang telah meninggalkan bisnisnya yang sukses dalam merenovasi masjidil harom milik rosulullah SAW di Madinah untuk saudara-saudaranya hingga ia pun kehilangan bagiannya – 2.5 juta dolar – lalu melemparkan dirinya ke tengah-tengah pertempuran”
Bagaimana dengan para “pemimpin agama” kita? Minimal sudahkan mereka menceraikan dunia? Yang tampak adalah mereka berlomba-lomba mengumpulkan dunia atas nama agama. Sungguh memalukan.
Ketika Syeikh Osama dicap sebagai teroris karena dianggap mendalangi peristiwa 911 yang membunuh ratusan warga Amerika, pernahkan para tokoh agama kita mencap Amerika sebagai teroris (juga) karena membunuhi rakyat sipil di Afganistan, Palestina, dan negara muslim lain yang berdalih “operasi pemberantasan teroris”?.
Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak wanita, anak kecil, dan orang tua yang terzolimi oleh tangan-tangan najis kaum kafir?
Pernahkah mereka menghujat Israel yang berpuluh-puluh tahun melecehkan Al Quds? Sungguh ironis, bukannya menghujat tetapi para tokoh kita ini memuji-muji Israel dan melupakan kebejatannya hanya dikarenakan beasiswa yang disodorkan untuk sekolah di luar negeri.
Semurah itukah keimanan dan kecintaan mereka pada Islam terjual? Menyedihkan, kaum terpelajar, kaum yang notabene “memahami agama” nya malah menjadi orang-orang utama yang menggebosi ummat untuk membenci kebangkitan Islam. (rasularasy/arrahmah.com)
JAKARTA (Arrahmah.com) – Beberapa saat setelah dilansirnya berita tentang terbunuhnya (syahid, insha Allah) Syeikh Osama Bin Laden, media, para tokoh masyarakat, dan pemerintah berusaha menggiring opini bahwa Syeikh Osama adalah tokoh yang wajib dimusuhi dan kita patut bergembira dengan meninggalnya “sang musuh”.
DPR mengingatkan agar pemerintah tetap mewaspadi terorisme pasca-kabar syahid-nya Syeikh Osama bin Laden dengan pertimbangan bahwa terorisme di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di Amerika Serikat.
“Benar bahwa Osama adalah inspirator teroris dunia tapi untuk di Indonesia mengarah pada terorisme baru,” kata Wakil Ketua DPR bidang Polhukam Priyo Budi Santoso di Gedung DPR/MPR Jakarta, Senin (2/5/2011).
Senada dengan Priyo, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siroj mengatakan, ”Jangan terlalu larut dalam kegembiraan atas kematian Osama, karena kematiannya tidak lantas membuat radikalisme lenyap dari muka bumi ini,” kata Said Aqil di Jakarta, Senin (2/5).
Menurut Said, radikalisme sudah ada sejak zaman dulu dan akan terus ada. Pasukan Amerika Serikat hanya berhasil membunuh Syeikh Osama, bukan mematikan radikalisme.
“Kita harus tetap waspada, karena radikalisme sudah ada sejak dulu dan akan terus ada. Persoalannya adalah apakah radikalisme itu tumbuh subur atau tidak. Ini tergantung bagaimana kita membendungnya,” katanya.
“Konsistensi dan komitmen menolak radikalisme tidak boleh pudar. Kita tidak boleh berkata lelah untuk menolak ajaran-ajaran radikal,” kata Said Aqil.
Menurutnya, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam membatasi ajaran radikal adalah melalui pendekatan konsititusi, pendekatan sosial, dan pendekatan keamanan sebagai langkah terakhir. “Masyarakat harus diingatkan kembali bahwa Indonesia dengan adat ketimurannya adalah bangsa yang santun dan ramah, jauh dari radikalisme. Begitu pula bentuk negara ini adalah NKRI. Ini sudah final,” katanya.
Para pelajar juga harus diperkuat nasionalismenya dengan menjelaskan arti pentingnya Pancasila sebagai dasar negara.
“Radikalisme” versi siapa?
Manusia memang hanya bisa berkomentar. Para tokoh berbicara tentang jihad, membela agama, dan radikalisme pada saat mereka duduk santai dan merasakan tidur enak di kasur yang empuk. Pernahkah para tokoh agama kita terjun langsung melihat kenyataan di kancah perang Afganistan? Palestina? Dan Chechnya?
Pada dasarnya para tokoh agama kita tak ubahnya dengan komentator sebuah acara televisi. Hanya bisa berkomentar tapi tak pernah bisa mempraktekkan. Apalagi yang dikatakan oleh mereka hanyalah kalimat-kalimat copy paste dari media-media liberal yang memang beragenda menggiring kaum muslimin untuk membenci dan memusuhi saudaranya sendiri.
Mereka berkoar-koar tentang “kejahatan” Syeikh Osama, tetapi pernahkah mereka mengenali pribadi beliau? Syeikh Osama yang berasal dari keluarga jutawan tetapi lebih memilih zuhud dan menyerahkan jiwa raganya untuk jihad dan Islam.
Seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Abdullah Azzam dalam ‘The Lofty Mountain’, “Orang-orang Afganistan melihat orang arab layaknya seorang lelaki yang meninggalkan perniagaannya, pekerjaannya dan perusahaannya di Saudi Arabia, atau di teluk Yordania, dan hidup dengan kehidupan roti dan teh basi di puncak-puncak pegunungan. Dan mereka akan melihat Usamah Bin Ladin layaknya seorang lelaki yang telah meninggalkan bisnisnya yang sukses dalam merenovasi masjidil harom milik rosulullah SAW di Madinah untuk saudara-saudaranya hingga ia pun kehilangan bagiannya – 2.5 juta dolar – lalu melemparkan dirinya ke tengah-tengah pertempuran”
Bagaimana dengan para “pemimpin agama” kita? Minimal sudahkan mereka menceraikan dunia? Yang tampak adalah mereka berlomba-lomba mengumpulkan dunia atas nama agama. Sungguh memalukan.
Ketika Syeikh Osama dicap sebagai teroris karena dianggap mendalangi peristiwa 911 yang membunuh ratusan warga Amerika, pernahkan para tokoh agama kita mencap Amerika sebagai teroris (juga) karena membunuhi rakyat sipil di Afganistan, Palestina, dan negara muslim lain yang berdalih “operasi pemberantasan teroris”?.
Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak wanita, anak kecil, dan orang tua yang terzolimi oleh tangan-tangan najis kaum kafir?
Pernahkah mereka menghujat Israel yang berpuluh-puluh tahun melecehkan Al Quds? Sungguh ironis, bukannya menghujat tetapi para tokoh kita ini memuji-muji Israel dan melupakan kebejatannya hanya dikarenakan beasiswa yang disodorkan untuk sekolah di luar negeri.
Semurah itukah keimanan dan kecintaan mereka pada Islam terjual? Menyedihkan, kaum terpelajar, kaum yang notabene “memahami agama” nya malah menjadi orang-orang utama yang menggebosi ummat untuk membenci kebangkitan Islam. (rasularasy/arrahmah.com)
Tuk benarkan propaganda, media sekuler pasang foto palsu Syeikh Usamah bin Ladin
Tag
INTERNASIONAL
Senin, 2 Mei 2011 13:25:58 Hanin Mazaya
(Arrahmah.com) - Kabar mengenai syahidnya amir Al Qaeda, Syeikh Usamah bin Ladin, sangat cepat menyebar. Berbagai media mengutip pernyataan Presiden negara penjajah AS yang mengumumkan berita kematian Syeikh Usamah pada Minggu (1/5/2011) malam. Ironisnya, untuk membenarkan propaganda mereka, sebuah foto editan atau foto palsu tak segan-segan mereka tampilkan.
Foto palsu tersebut, yang diedit menggunakan Photoshop, telah beredar luas di Pakistan dan menjadi alat propaganda murahan badan intelijen Pakistan, ISI sejak setahun lalu
Kini foto tersebut dikutip oleh beberapa media Pakistan dan media dunia untuk mengklaim kebenaran berita kematian Syeikh Usamah. Bahkan, media sekaliber Al Jazeera ikut membebek dan memperlihatkan foto tersebut kepada khalayak dalam siaran berita mereka. Media lokal seperti TV One juga ikut menampilkan foto tersebut, mengutip media Pakistan.
Padahal masyarakat awam sekalipun sepertinya dapat melihat bahwa foto tersebut adalah foto editan, atau foto palsu, benar-benar lucu! (haninmazaya/arrahmah.com)
Foto palsu tersebut, yang diedit menggunakan Photoshop, telah beredar luas di Pakistan dan menjadi alat propaganda murahan badan intelijen Pakistan, ISI sejak setahun lalu
Foto Asli Syeikh Usamah bin Ladin
Padahal masyarakat awam sekalipun sepertinya dapat melihat bahwa foto tersebut adalah foto editan, atau foto palsu, benar-benar lucu! (haninmazaya/arrahmah.com)
Inikah foto jenazah Syaikh Usamah bin Ladin?
Tag
INTERNASIONAL
Senin, 2 Mei 2011 20:46:29
(Arrahmah.com) – Setelah media heboh memberitakan terbunuhnya Syaikh Usamah bin Ladin (syahid, insya Allah), beredar foto yang dikatakan sebagai foto jenazah Osama bin Laden. Benarkah foto tersebut?
Menurut penelusuran Arrahmah.com, foto tersebut ternyata sudah lama beredar, dan sangat jelas terlihat palsunya. Foto tersebut sudah beredar sejak tahun 2009, saat Syaikh Usamah dikabarkan terbunuh oleh intel Pakistan.
Foto tersebut ternyata hanyalah hasil olahan aplikasi pengolah foto. Tampak jelas kemiripan foto mayat tersebut dengan foto asli Syaikh Usamah, dimana bagian hidung ke bawah masih sama dengan foto aslinya, dan bagian mata dan kepala merupakan foto lain yang digabungkan dengan foto beliau.
Selain itu, syahidnya para tokoh Mujahidin akan membuat mereka semakin hidup dalam jiwa para pemuda Islam yang selalu berjuang demi tegaknya agama Allah. Wallahu a’lam. (fadly/arrahmah.com)
(Arrahmah.com) – Setelah media heboh memberitakan terbunuhnya Syaikh Usamah bin Ladin (syahid, insya Allah), beredar foto yang dikatakan sebagai foto jenazah Osama bin Laden. Benarkah foto tersebut?
Menurut penelusuran Arrahmah.com, foto tersebut ternyata sudah lama beredar, dan sangat jelas terlihat palsunya. Foto tersebut sudah beredar sejak tahun 2009, saat Syaikh Usamah dikabarkan terbunuh oleh intel Pakistan.
Foto tersebut ternyata hanyalah hasil olahan aplikasi pengolah foto. Tampak jelas kemiripan foto mayat tersebut dengan foto asli Syaikh Usamah, dimana bagian hidung ke bawah masih sama dengan foto aslinya, dan bagian mata dan kepala merupakan foto lain yang digabungkan dengan foto beliau.
Foto Asli + Foto Mayat = Foto Palsu
Apapun yang terjadi kepada Syaikh Usamah bin Ladin insya Allah tidak akan melemahkan para Mujahidin dan kaum Muslimin. Kalau pun beliau memang terbunuh, sesungguhnya beliau tidak mati, karena orang yang terbunuh di jalan Allah tidaklah mati, bahkan hidup di sisi Allah dengan mendapat berbagai kemuliaan, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran.
Selain itu, syahidnya para tokoh Mujahidin akan membuat mereka semakin hidup dalam jiwa para pemuda Islam yang selalu berjuang demi tegaknya agama Allah. Wallahu a’lam. (fadly/arrahmah.com)
Syeikh Usamah bin Ladin dilaporkan syahid (Insha Allah) oleh media sekuler
Tag
INTERNASIONAL
(11:47:43 WIB) Syeikh Usamah bin Ladin dilaporkan syahid (Insha Allah) oleh media sekuler
WASHINGTON (Arrahmah.com) – Syeikh Usamah bin Ladin dikabarkan telah meninggal dunia dalam operasi militer AS. Syeikh Usamah dilaporkan syahid, Insha Allah, oleh personil militer AS di Pakistan, menurut keterangan Presiden AS, Barack Obama.
Obama mengklaim bahwa militer AS dalam waktu dekat akan memperlihatkan bukti, karena jenazah Syeikh Usamah telah berada di tangan militer.
Sebelumnya pada Minggu (1/5/2011), Gedung Putih mengumumkan sebuah konferensi pers yang mengangkat pertanyaan di seluruh web, pada Minggu malam waktu Timur, merupakan waktu yang aneh bagi Presiden untuk melakukan konferensi semacam itu.
Presiden Barack Obama laknatullah, mengatakan orang yang paling dicari oleh AS telah tewas dalam operasi militer AS di kota Abbottabad, Pakistan sekitar 150 Km dari Islamabad.
“Malam ini, saya dapat melaporkan kepada rakyat Amerika dan dunia, AS telah melancarkan operasi yang menewaskan Usamah bin Ladin, seorang ‘teroris’ yang bertanggung jawab atas tewasnya ribuan orang,” klaim Obama dalam statemennya.
“Hari ini, dengan arahan saya, AS melakukan operasi yang membunuh Usamah bin Ladin dan mengambil hak asuh dari jenazahnya. Kematian bin Ladin menandai pencapaian yang paling signifikan sampai saat ini,” lanjutnya.
Setelah konferensi pers tersebut, berita mengenai syahidnya Syeikh Usamah menyebar cepat dan pejabat teroris AS segera merayakannya.
Mantan presiden AS, George Bush menyebut kematiannya sebagai “prestasi penting”.
“Perang melawan teror akan terus berlangsung, namun malam ini Amerika telah mengirimkan pesan jelas : tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan, ‘keadilan’ akan dilakukan,” klaim Bush.
Reporter Al Jazeera mengatakan bahwa kematian syeikh Usamah membuat banyak orang terkejut.
“Dia dianggap sebagai pahlawan oleh banyak orang, tapi sejauh ini tidak ada massa yang keluar ke jalan,” ujarnya.
Menurut arrahmah.com bisa jadi ini merupakan propaganda terbesar yang dikeluarkan teroris AS dalam strategi terbaru mereka untuk mengalahkan Mujahidin Afghan, karena kami menemui beberapa kejanggalan dalam pemberitaan yang dimuat oleh media-media kafir corong AS. Terlalu dini untuk membenarkan klaim AS terkait kabar kematian Syeikh Usamah.
Pertama, beberapa menit sebelum Obama mengumumkan kabar syahidnya Syeikh Usamah, situs Syamikh.co.cc yang notabene merupakan situs jihad terbesar pengganti situs al-ikhlas, yang selalu menjadi rujukan kaum Muslimin untuk mengetahui kebenaran berita tentang Mujahidin, situs tersebut masih bisa dibuka, namun setelah Obama mengumumkan kabar tersebut, situs itu hilang dari peredaran secara permanen. Bisa jadi ini dilakukan untuk menutup akses kaum Muslimin mendapatkan kepastian tentang kabar kematian Syeikh Usamah yang dilakukan oleh AS.
Kedua, bisa jadi berita ini merupakan propaganda pertama yang dilakukan Petraeus yang kini menjadi direktur CIA bekerja sama dengan Leon Panetta yang menjabat Menteri Pertahanan AS, untuk melemahkan semangat Mujahidin Afghanistan dan Pakistan. Sehingga mereka membuat berita yang menyatakan bahwa mereka telah berhasil membunuh Syeikh Usamah.
Namun sebagai Muslim, tidak perlu bersedih hati atas kesyahidan Syeikh Usamah jika memang berita tersebut benar adanya. Namun dalam hal ini, arrahmah.com belum bisa memberikan kepastian berita tersebut, karena kami belum mendapat konfirmasi dari situs-situs terpercaya rujukan kami.
Ketiga, saat AS mengklaim berhasil menewaskan Syeikh Abu Mus’ab al-Zarqawi, gambar yang memperlihatkan syahidnya beliau dirilis, namun mengapa untuk Syeikh Usamah tidak? Begitupun dengan Abu Umar al-Baghdadi.
Jika memang kabar ini benar, kita patut berbahagia, karena memang cita-cita beliau untuk syahid di jalan Allah. Sekali lagi, kaum Muslimin tidak perlu risau, ada atau tanpa Syeikh Usamah, jihad akan terus berlanjut dan insha Allah Syeikh Usamah-Syeikh Usamah yang lain akan muncul menggantikannya. Kini kita tunggu rilis resmi dari Mujahidin dalam menanggapi berita ini. (haninmazaya/saif al-battar/arrahmah.com)
2 Mei 2011
Lakukan Perubahan, Bermula dengan Diri
Tag
Ketua Umum
Dunia dakwah dan tarbiyah tidak akan pernah terlepas dari istilah ‘perubahan’. Tarbiyah adalah metode pengubah, Ikhwan Muslimin membawa manhaj perubahan dan setiap manusia yang meyakini jalan tarbiyah pasti akan mengalami perubahan dari masa ke masa.
Perubahan kepada kebaikan adalah impian hampir semua orang, sebagaimana pepatah Arab berbunyi “Beruntunglah orang yang hari ini lebih baik dari semalam, rugilah orang yang sama keadaannya hari ini dengan semalam dan celaka lah orang yang hari ini lebih teruk dari semalam”
Manusia merupakan insan bertabiat. Tabiat yang sering kita alami adalah perasaan selesa pada keadaan semasa. Untuk kita berubah kearah kebaikan atau keburukan, sememangnya susah oleh kerana tabiat kita tidak membenarkan.
Bagaikan magnet yang menarik kembali diri kita ke aras keselesaan, walaupun sedikit demi sedikit kita cuba melakukan satu perubahan, magnet tersebut akan kembalikan kita ke aras asal.
Jadi, apa yang diperlukan jika kita hendak berubah?
1. Keikhlasan hati
Ikhlas adalah sesuatu yang tersembunyi, dan ia tidak dapat diketahui kehadirannya..melainkan kesan-kesan yang terzahir. Ikhlas akan membuatkan kita istiqamah atas pilihan hati untuk berubah, dan dengan ikhlas lah Allah akan membantu mujahadah seseorang itu.
Tidak ada lagi yang dapat mengganggu gugah jiwa jika niat yang terpasak dalam hati adalah ikhlas semata-mata kerana Allah, bukan untuk pengiktirafan manusia lainnya atau pun mengharapkan nilai material dunia.
Di dalam rukun bai’ah Al-Ikhlas, Al- Imam Asy Syahid Hasan Al-Banna berkata :
“Yang saya maksudkan dengan ikhlas ialah setiap akh Muslim mestilah mengharapkan keredhaan Allah dan ganjaran pahala dari-Nya. Semua perkataan, amalan dan jihad tidak memandang kepada sebarang keuntungan, kemegahan, gelaran, kedudukan terkemuka atau mundur. Dengan itu beliau menjadi tentera fikrah dan aqidah, bukan tentera yang mengejar sesuatu atau kepentingan.”
2. Suasana baru
Memang tidak dapat dinafikan lagi, keadaan dan orang yang sama sebenarnya mampu mempengaruhi pemikiran kita agar tidak berubah kepada yang lebih baik. Solusi nya, usahakan agar anda mampu berhijrah ke tempat baru / rumah baru / belajar luar Negara / dan lain-lain. Paling penting, jauhkan sedikit diri dari keadaan sekarang.
Dan sebenarnya ini telah terbukti keberkesanannya ketika peristiwa zaman dulu kala yang telah membunuh 99 orang, kemudian digenapkan 100 orang dengan membunuh orang alim yang mengatakan bahawa dia tidak dapat bertaubat. Sesudah itu, orang alim seterusnya yang dia jumpa telah menasihatinya agar meninggalkan tempat lama yang telah dia lakukan banyak kezaliman di sana, demi menuju satu kawasan yang diduduki orang-orang yang soleh.
Persoalan sama ada suasana membentuk kita atau kita yang membentuk suasana, itu bergantung kepada sosok tubuh orang itu sendiri. Jadi, kenali dan kenalpasti kekuatan dan kelemahan kita agar keputusan dapat dilakukan segera.
3. Keazaman yang kuat
Walaupun keazaman ini berada dalam hati, dan hati tersebut berada dalam diri kita..hakikatnya kita tak mampu sedikit pun untuk mengawal hati sendiri dan apa yang ada di dalamnya. Ironi, bukan? Seolah-olah milik kita, tapi kita sendiri tak mampu menguasainya.
Oleh itu, adalah penting bagi setiap orang yang memahami dakwah dan tarbiyah ini – untuk memperbanyak doa dan berusaha mengikat naluri hati dengan cinta Allah taala, agar diberi sumber keazaman dalam diri.
4. Bersegera
Pada saat terdetiknya hati untuk buat perubahan kepada kebaikan, jangan lah bertangguh lagi. Bertangguh-tangguh dari melakukan kebaikan adalah datang dari syaitan, kerana dia menginginkan kita mendapat keburukan.
“..sesungguhnya syaitan adalah musuh kamu yang nyata”
(al-Israa’ : 53)
Padahal yang sepatutnya kita tangguhkan adalah amal keburukan (melambat-lambatkan diri dari berbuat perkara mungkar), agar mudah-mudahan kita memperoleh kebaikan pula sesudah itu.
Sesungguhnya manhaj perubahan kita adalah manhaj yang mengubah manusia dengan fitrah. Orang yang melakukan perubahan secara paksaan tidak akan kekal, tidak memahami sunnatullah dan sirah nabawiyyah yang telah memberi petunjuk.
Lakukan agar dunia mengalami perubahan dengan berlakunya perubahan dalam diri kita. Pengetahuan, kefahaman dan kesedaran itu telah sampai – yang tinggal adalah mujahadah diri terhadap nafsu yang sering memberi alasan untuk berubah.
*Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) Jordan dengan perubahan seperlunya
*Ikatan Muslimin Malaysia (ISMA) Jordan dengan perubahan seperlunya
1 Mei 2011
Teknologi Militer Islam
Tag
Teknologi
Penguasaan atas Konstantinopel menjadi target utama penguasa Usmani. Setelah berabad-abad sulit ditaklukkan, pada 1452 barulah simbol kekaisaran Bizantium itu berhasil dikuasai umat Islam.
Kegemilangan itu diraih berkat berbagai faktor. Salah satunya, seperti dipaparkan Tamim Ansary pada bukunya Dari Puncak Baghdad, Sejarah Dunia Versi Islam adalah kehadiran beragam perangkat militer luar biasa yang digunakan pasukan Usmani.
Senjata utamanya adalah meriam besar yang disebut Basilika. Panjangnya mencapai 27 kaki dengan lubang lingkaran begitu besar. Meriam itu bahkan bisa menembakkan peluru hingga sejauh satu mil. “Pasukan Usmani adalah pasukan bersenjata terbaik dan berteknologi paling maju pada zamannya,” ungkap Tamim Ansary.
JIWA (Kajian Akhwat) PD PII Pati, Kembalikan Identitas Muslimah
Tag
Aktivitas
Kajian Akhwat atau JIWA merupakan pembinaan Remaja Muslimah dan merupakan program kerja khusus dari Bidang Kemuslimahan PD PII Pati dimana program ini membijaki pelajar Muslimah lebih mengenal Islam dan mengembalikan Jiwa Muslimah yang sejati serta memperkukuh ukhuwwah dikalangan pengurus akhwat.
JIWA diadakan di :
Masjid As Salam Desa Randukuning, Pati
Pada hari RABU pukul 15.30 WIB
JIWA diadakan di :
Masjid As Salam Desa Randukuning, Pati
Pada hari RABU pukul 15.30 WIB
Peranan Media Sebagai Pemangkin Dakwah (2)
Tag
Ketua Umum
Islam terus dikesankan sebagai ajaran yang angker. Tak diragukan lagi, usaha ini ditopang oleh media-media massa Barat secara kolektif. Media-media barat boleh dikatakan sebagai eksekutor konspirasi Islamphobia. Hal ini lah yang membuat kalangan budaya dan media-media massa dunia Islam gencar mereaksi propaganda Barat yang menyudutkan Islam.Berkaitan hal ini, persidangan yang mengangkat topik, Tugas Kolektif Media-Media Massa dan Teknologi Maklumat dalam Meluruskan Informasi Islam, digelar di Tunisia pada tarikh 5 hingga 7 Mei. Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) sebagai penyelenggara persidangan tersebut, berupaya menentukan visi bersama di kalangan media-media massa dunia Islam, dalam rangka menghadapi segala bentuk Islamphobia yang dibangunkan oleh Barat.Di Barat, khususnya di AS dan negara-negara Eropah, berbagai media massa dimanfaatkan untuk menghentam ajaran Islam. Hingga kini, beberapa filem pawagam dan televisyen yang menghina Islam, telah ditayangkan. Sebagai contoh, filem Fitna adalah salah satu film yang benar-benar menyimpangkan Islam dan Al-Quran. Lebih dari itu, berita-berita minor sedemikian rupa dikemas media-media massa Barat untuk mengambarkan penganut ajaran Islam yang radikal dan mundur. Hal itu dapat dilihat dari pemberitaan minor dan penyimpangan fakta yang terjadi di Palestin, Iraq dan Afghanistan. Media-media Barat dari akhbar, radio hingga televisyen, secara kompak mempropagandakan anti Islam melalui artikel dan karikatur-karikatur yang mendiskreditkan agama ini. Denmark adalah negara yang cukup diikenal menerbitkan karikatur penghinaan terhadap Nabi Besar Muhammad saw, bahkan hal itu dilakukan hingga beberapa kali.
Di tengah kondisi seperti ini, para peserta persidangan media dunia Islam di Tunisia mengkaji segala potensi yang dimiliki oleh dunia Islam untuk menghadapi pelbagai sikap sentimen Barat atas Islam. Salah satu misi utama media-media Islam yang ditekankan dalam persidangan itu adalah menjawab segala tudingan yang tak berdasar dan mencerminkan hakikat Islam yang tertuang dalam doktrinasi-doktrinasi agama ini.
Kini, umat Islam sangat menyedari bahawa media boleh dijadikan sebagai salah satu alat untuk menghadapi propaganda anti Islam. Melalui media, umat Islam juga boleh meng-counter isu-isu minor yang memojokkan agama ini. Dengan demikian, umat Islam menggunakan senjata yang juga digunakan oleh Barat dalam menyerang Islam, iaitu media. Salah satu contoh untuk mencerminkan wajah Islam yang sebenarnya adalah untuk membuat filem kehidupan Rasulullah SAWW dengan mencerminkan budi bekerti dan akhlak mulia sosok ini, khususnya perilaku beliau saww dengan pemeluk agama lain. Selain itu, hal yang juga boleh dilakukan adalah penulisan buku, makalah dan wawancara dengan para pakar yang mengulas tentang potensi ajaran Islam untuk menyelesaikan masalah manusia yang sekaligus menjawab isu-isu miring tentang agama langit ini. Meski sebahagian agenda dalam meng-counter propaganda anti-Islam sudah dilakukan, namun usaha itu masih belum cukup menyusul propaganda luas Barat yang terus menyuarakan anti Islam.
Untuk menghadapi serangan media Barat terhadap Islam, kendala utama adalah tidak adanya koordinasi antarmedia Islam. Pada masa yang sama, media-media Barat secara kompak menyudutkan Islam. Sebagai contoh, tidak lama selepas akhbar Denmark menerbitkan karikatur penistaan terhadap Rasulullah saw, akhbar-akhbar Barat yang lain melakukan hal yang sama.Ditambah lagi, propaganda anti Islam diterbitkan media-media Barat dengan menyebut pelbagai alasan dan justifikasi. Semua itu dilakukan oleh media-media massa Barat dengan penyelarasan yang baik. Namun sangat disayangkan, penyelarasan antarmedia tidak ditemui di dunia Islam. Oleh kerana itu, persidangan yang digelar di Tunisia membahas hal tersebut dan membina sistem koordinasi antarmedia di dunia Islam. Persidangan itu juga mengharapkan negara-negara Islam membentuk pusat kajian guna membahas maklumat dan pemikiran Islam serta menghadapi propaganda Barat terhadap agama ini.
Salah satu kendala lain yang dihadapi media-media Islam adalah tidak adanya sensitiviti dalam mendakwahkan Islam. Sangat disayangkan pula, media-media Islam tidak mempunyai kepercayaan diri dalam menghadapi propaganda anti Islam, bahkan menilai pembelaan atas Islam sebagai hal yang bukan sebahagian dari tugasnya. Padahal pelanggan mereka adalah umat Islam sendiri yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama mereka.
Persidangan Tugas Kolektif Media-Media Massa dan Teknologi Maklumat dalam Meluruskan Informasi Islam di Tunisia mengimbau media-media Islam untuk bersikap tidak acuh dalam menghadapi propaganda anti Islam. Akan tetapi hal yang harus diperhatikan bahawa usaha pengenalan nilai dan budaya Islam memerlukan konsentrasi dan spesialiasi di bidang ini. Hal ini juga harus dilaksanakan oleh para pakar Islam. Sebab, pengenalan yang salah sama halnya mencoreng wajah Islam itu sendiri.
Para peserta persidangan media yang diadakan di Tunisia, juga menginginkan operasi televisyen yang menayangkan dialog antartokoh agama dan cendikiawan. Dengan cara itu, batas kebebasan berpendapat boleh diperjelas dan segala langkah yang bersifat gangguan atas Islam, tidak dibenarkan. Sebab, Barat dengan alasan kebebasan berpendapat membenarkan segala ekspresi. Melalui alasan itu, media-media Barat menghina Nabi Besar Muhammad saw dan melecehkan nilai-nilai Islam yang diyakini oleh lebih daripada satu setengah bilion warga dunia.
Di persidangan itu juga menawarkan prestasi untuk program pendidikan dan dakwah dalam menghadapi kesan-kesan Islamphobia. Salah satu programnya adalah memasukkan mata kuliah di kampus-kampus mengenai kaedah anti Islam yang diterapkan Barat dan cara menghadapinya.
Saat ini, media-media Islam mempunyai peranan penting dalam menghadapi propaganda anti-Islam yang digembar-gemburkan Barat. Meski media-media Islam mempunyai kemudahan yang terhad, namun mereka boleh melakukan koordinasi yang lebih bagus guna mencerminkan wajah Islam yang sebenarnya. Melalui penyelarasan yang kukuh, cita-cita media-media Barat dalam memojokkan Islam dapat diantipasi dengan baik.
Peranan Media Sebagai Pemangkin Dakwah (1)
Tag
Ketua Umum
Sewaktu menonton sebuah cerita yang berbentuk animasi berkisar tentang kisah junjungan besar Nabi Muhammad S.A.W ‘THE LAST PROPHET‘, hati terpaut untuk menghayati perjalanan kisah hidup baginda S.A.W. menerusi jalinan cerita filem ini.
Berkat panduan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu, Alhamdulillah segala halangan dalam jihad menuntut ilmu dapat diatasi. Itu untuk mereka yang mahu berusaha dan punya waja diri yang kuat untuk berjihad, bagaimana pula bagi yang kurang upaya dan lemah semangatnya? Pasti kecundang di pertengahan jalan sedang dakwah yang disampaikan tidak dapat disebarkan. Hati-hati kecil inilah yang perlu dilentur dan dibentuk semangat jati dirinya agar kelak ketika sudah menjadi dewasa, takkan goyah menerima cercahan.
Tetapi bagaimana caranya yang efektif? Cara pendekatan yang menghiburkan dan yang dekat di pandangan. Jika cerita ini ditontoni oleh adik kecil yang masih di awal usia, pasti guru-guru mereka tidak sukar menyampaikan dakwah kepada mereka lantaran dibantu dek teknologi media. Cerita ini menggamit hati untuk mengimbau kenangan semasa di bangku persekolahan suatu ketika dahulu lantas memberi sejenak kesempatan untuk mencoretkan apa yang ada di lintasan fikiran.
Namun, bukan itu tajuk utama yang hendak disampaikan mahupun dirungkaikan. Persoalan yang terdetik di minda pemberian tuhan Rabbul izzati ini adalah bagaimana caranya untuk memastikan medium dakwah ini mampu diterapkan ke dalam hati minda-minda si kecil masa kini agar jiwa-jiwa kecil ini mampu terdidik dan terasuh dengan asuhan berlandaskan ad-Deen itu sendiri.
Sungguh, medium yang paling hampir dengan seluruh umat manusia masa kini adalah telekomunikasi yang jika diperkecilkan lagi skopnya adalah menerusi medium hiburan yang berbentuk informasi atau dengan kata lain menerusi filem mahupun rancangan di televisyen. Nah, ternyata mediuminilah yang sekarang mencatat kedudukan tertinggi di hati insan dan bukan sahaja digemari oleh kanak-kanak, tetapi seluruh dunia.
Masya-Allah! Persoalan baru sahaja dirungkaikan, namun isinya masih belum dikupas dan diberi dengan hujahan-hujahan dan bukti yang utuh lagi kukuh. Terfikirkah di benak kita ini bahawa betapa menularnya ideologi-ideologi yang cuba ditanamkan oleh orientalis Barat yang bertunjangkan nafsu dunia semata-mata menerusi medium yang kita praktikkan masa kini.
Lihat sahaja di kaca televisyen bagaimana serangan yang dilakukan oleh orientalis Barat ini telah meracuni pemikiran umat masa kini dengan hiburan yang melalaikan, perbuatan maksiat yang dianggap sebagai gaya dan rencah hidup masa kini yang berteraskan arus kemodenan yang melalaikan.
Nyata sahaja golongan kufar ini mampu mendabik dada dan berteriak “Inilah serangan yang dapat kami takhluki tanpa pertumpahan darah! Inilah kemenangan yang berjaya kami bolosi dengan serangan jiwa dan pemikiran umat masa kini. Kami kuasai ekonomi, hiburan dan maklumat terkini menerusi satu saluran iaitu teknologi multimedia yang semakin dikenali dan diagungi! Nah, nyata kemenangan telah kami perolehi!!” Persoalan dan bukti menampakkan diri, kini hujahan berikut mengukuhkan bukti.
Lihat sahaja bagaimana fasihnya dan tekunnya anak-anak muda generasi kini menghafal dan mengagungkan artis barat yang menjadi idola mereka. Fasihnya mereka ini menghafal lagu-lagu yang kadang butir katanya adakala berbaur lucah dan bersifat nista, sedangkan kitab Al-Quran itu seakan beban untuk dibaca apa lagi untuk dihafaz. Agungnya artis barat itu sehingga sanggup bergolok bergadai untuk ke konsert yang dibuat atas dasar ‘inilah bukti setianya aku kepadamu’ sedangkan tokoh-tokoh agama, panglima-panglima Islam yang punya sejarah gemilang tak mereka ketahui, malahan ada yang memeritkan Rasul pesuruh Allah itu tak diketahui sirah dan sifatnya. Masya-Allah! Bala apakah ini?
Demokrasi. Satu sistem yang dianggap adil dan saksama kerana menggunakan majoriti dan suara orang ramai dalam mencari sesuatu penyelesaian. Tetapi, lihat secara tersiratnya, bukan yang tersuratnya sejauh mana sistem ini mampu menaikkan sesebuah negara jika sistem yang dijalankan ini tidak diamalkan bertunjangkan Al-Quran dan As-Sunnah. Sejauh manakah keberkesanan dan berjayanya undang-undang itu seandainya hanya mampu dipraktikkan di atas kertas semata mahupun kata ‘DEMOKRASI’ itu sendiri sedangkan tidak diamalkan dengan cara yang betul?
Siapakah yang harus dipersalahkan sekiranya gejala buli, merompak, memperkosa semakin menular dalam kalangan masyarakat masa kini sedangkan jika dikaji dan ditimbang tara masalah ini berpunca daripada penerapan ideologi kufar itu sendiri.
Masyarakatkah yang salah kerana membiarkan diri mereka terjebak dalam kancah kebingungan jajahan pemikiran orientalis barat ini? Kucing mana yang mahu menolak ikan segar tersedia di depan mata, siapa yang tidak akan tertarik jika pelbagai taktik yang menyilaukan pandangan dijadikan umpan untuk menarik perhatian. Sisipan iman di dada yang lemah tidak dapat membantu menguatkan diri untuk menegah daripada berlakunya kemungkaran yang bermaharajalela di depan mata.
Pimpinan iman itu yang menyelamatkan hati-hati daripada terpaut pada ajakan lawan. Nah, nyata di sini bagaimana faktor kepimpinan itu sendiri yang dapat memainkan peranan yang teramat penting bagi menggalas bebanan ini. Sekiranya kepimpinan yang di atas pundak itu berjuang dengan panduan Al-Quran dan As sunnah, mengamalkan yang makruf dan menghindar yang mungkar, pasti gejala yang berlaku pada masa kini tidak terjadi.
Penyelesaian tidak dapat dicari andai kita saling salah menyalahi. Pentingnya di sini, ekonomi Islam itu perlu kita kuasai, ilmu duniawi itu perlu kita terokai, untuk bimbingan menuju uhkrawi. Menghurai maksud isi dunia menerusi permasalah yang cuba dikaji, nyata medium yang selama ini menjadi hiburan insan ini perlu kita kuasai dengan cara yang islami agar nilai kesedaran itu dapat kita perolehi. Lihat sahaja sejarah bagaimana Malaysia yang tercinta ini mendapat kemenangan daripada jajahan takhlukan kuasa yang lain dan tidak bukan bertitik tolak daripada medium yang paling hampir dengan masyarakat iaitu media massa.
Media massa yang memainkan peranan yang sangat penting kepada masyarakat dalam usaha dakwah Ad-Deen ini. Corak penyampaian yang sangat berkesan dan memudahkan adalah dengan cara penyampaian di saluran kaca televisyen, dan di corong-corong radio. Bukan hendak menafikan medium penulisan yang juga memainkan peranan yang sangat penting, namun kesibukan masyarakat masa kini memungkinkan hanya segelintir yang membaca berbanding dengan mendengar mahupun menonton.
Berbalik kepada isu sampingan yang dikemukakan di awal penghujahan, telah terang lagi bersuluh dapat dilihat bagaimana medium dakwah yang disebarkan melalui filem dapat menarik hati ini untuk menonton dan memahami perjuangan rasul junjungan suatu ketika dahulu untuk menyebarkan syiar Islam.
Terdetik di hati ini bahawa inilah medium yang dicari yang dapat membawa kepada penyelesaian kerosakan akidah masa kini. Bertitik tolak daripada itu, hati ini senantiasa mengharap redha Ilahi mengiringi langkah perjuangan jihad di jalan seni dengan bertunjangkan kalimah Lailaha Ilallah Muhammadur Rasulullah. Moga jalan yang diceburi tak dicemari oleh nafsu kepada duniawi hingga lalai pada yang ukhrawi.
Menjadi Pribadi Luar Biasa, Tak Perlu Sama
Tag
Muslimah
“Akhwat kok ngebut ?!” begitulah komentar seorang ikhwan, saat melihat seorang perempuan berkerudung lebar melintas dengan cepat, mendahului laju motornya.
Ada juga yang berkomentar, “Kok yang jadi pembicara akhwat ya? Pesertanya kan ada ikhwan juga ....” sela seorang peserta training kepemimpinan ketika mendapati situasi yang berbeda dari yang biasa dialaminya.
Sempat pula kudengar seorang adik tingkat berkata, "Mbk, si A itu kok kalem banget sih … kan jadi terlihat lemah gitu di hadapan ikhwan…" Dan komentar lainnya. Bingung mendengar komentar-komentar itu ?
Mungkin saja kita jadi bingung bila mendengar komentar-komentar seperti itu. Ya, suatu sudut pandang yang berbeda dalam menilai sesuatu. Apalagi jika bersangkutan dengan yang namanya “akhwat”. Wanita yang berusaha menjalankan aturan sesuai syariat, tak jarang mendapat komentar dari kanan-kirinya.
Bagi sebagian besar orang, yang namanya akhwat itu harus identik dengan sifat lembut, kalem, tidak bicara kasar, menjaga sopan santun, dan lain sebagainya. Kalau mengenai ikhwan … ya, seorang yang identik dengan sifat tegas, pandai orasi, berwibawa, dan lain-lain. Pantas saja kalau sebagian orang terheran-heran ketika ada seorang akhwat yang punya sifat “nyentrik", dan menjadi kaget melihat ikhwan yang punya sifat lemah lembut.
Ingatkah kita kisah teladan dari Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka adalah sosok yang mengagumkan. Bahkan 10 diantaranya dijamin masuk surga. Ada juga empat pemimpin kaum Hawa di Jannah-Nya kelak, mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda, dengan adat/kebiasaan yang berbeda, dengan sifat yang berbeda pula.
Rasulullah SAW adalah seorang yang paling lembut terhadap istri dan anak-anaknya, sangat sopan terhadap para sahabat/shobiyahnya. Bahkan pada seorang kafir buta yang sudah tua. Seiap hari beliau menyuapi orang kafir yang buta ini, sampai beliau wafat. Saat Abu Bakar menggantikannya untuk menyuapi orang buta itu, ia bisa dengan mudah membedakannya. Tapi, Rasulullah SAW adalah orang pertama yang “tidak terima” saat kaum kafir memusuhi Islam. Sikapnya begitu tegas dan keras saat musuh-musuh Islam itu merajalela.
Ingatkah engkau dengan sosok Abu Bakar? Sosok ikhwan yang sangat menjaga kesopanan, lemah lembut terhadap sesamanya. Dari segi fisik, beliau adalah seorang yang bertubuh kurus, sampai celananyapun sering kedodoran. Walau beliau banyak harta, tapi tak menghalanginya untuk menjauhkan lambung dari tempat tidurnya.
Beda lagi dengan Umar bin Khatab. Secara fisik, sosoknya tinggi besar, kekar, dan besar. Sifatnya sangat tegas. Tapi tak jarang beliau ditemukan dalam keadaan menangis tersedu dalam salat, bahkan sampai pingsa. Sosok yang selalu ingin bersaing dengan Abu Bakar ini, tak jenuh menanyakan pada Rasulullah SAW tentang apa-apa yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Allah SWT.
Ustman bin Affan, seorang ikhwan hartawan yang sangat pemalu, bahkan malaikat pun malu pada beliau. Tak enggan memberikan harta di jalan Allah, itulah karakteristiknya.
Lain lagi dengan Ali bin Abi Thalib. Beliau seorang pemuda yang sangat bersahaja. Pemuda pertama yang memeluk agama Islam. Pemuda yang sangat menjaga hati terhadap lawan jenisnya, saampai Allah ‘menghadiahkan’ sosok lembut Fatimah binti Muhammad sebagai pendamping hidupnya. Walau keduanya sudah "ada rasa" sebelumnya, tapi mereka berusaha untuk tidak mengekspresikan sebelum saatnya tiba. Subhanallah ....
Ummahatul Mukminin, para wanita yang mendapat kehormatan mendampingi Rasulullah SAW, wanita dengan karakter luar biasa. Mereka semua memiliki karakter berbeda-beda dan memiliki keunggulannya masing-masing. Semua punya keunggulan amal, punya akhlak mulia yang luar biasa.
Siti Khadijah, sosok keibuan yang tiada bandingnya di hati Rasulullah SAW. Bahkan Rasul-pun sering menyebut namanya walau beliau sudah tiada hingga Aisyah cemburu dibuatnya. Khadijah adalah sosok penuh pesona, walaupun beliau seorang janda, seorang hartawan dan bangsawan, tapi tak membuatnya bimbang untuk menyerahkannya demi ke-muntijah-an Islam.
Aisyah adalah osok wanita dengan kedalaman ilmu yang sangat luar biasa. Bahkan seorang sahabat berkata, "Kalau ilmu Aisyah ditukar dengan ilmu para wanita di dunia, niscaya tidak sebanding dengannya. Hafalan hadisnya tidak perlu diragukan, kepandaiannya dalam ilmu kedokteran dan sastra, tidak perlu disangkal.
Hafshah binti Umar adalah seorang pemelihara al-Quran. Ummu Salamah dalah istri Rasulullah SAW yang pertama masuk Madinah. Ummu Habibah adalah mukminah yang amat setia terhadap agamanya. Juwairiyah binti Al-Harist adalah wanita pembawa berkah besar bagi kaumnya.
Para shohabiyah-pun tak perlu diragukan lagi. Asma’ binti Abu Bakar ialah Sang pemilik dua ikat pinggang. Ummu Khultsum binti Ali ialah bidan muslimah pertama. Sumayyah binti Khayyath ialah Syahidah pertama dalam Islam. Ummu ‘Umarah ialah prajurit mukminah.
Dan masih banyak lagi ...
Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita ? Silakan memilih teladan yang paling dikagumi, karakter yang paling sesuai diterapkan dengan diri pribadi. Jangan sampai tidak memilih sama sekali, begitu sindiran seorang ustadz.
Kawan, sekali lagi, mencontoh bukan berarti harus sama, kita tetap bisa menjadi diri sendiri, tinggal mengoptimalkan untuk berjuang meraih ridha-Nya. Sungguh, masing-masing dari kita pasti memiliki kecenderungan yang berbeda, punya sifat yang tidak sama, punya amal unggulan yang berbeda, asalkan tidak melanggar syariat-Nya.
Malu rasanya diri ini mengingat pribadi-pribadi yang luar biasa, yang saya sebutkan di atas. Ada teman yang sangat mendahulukan salat di awal waktu dengan berjamaah, ada yang senang membangunkan teman kos untuk salat malam, mengirim SMS tausiyah berkesinambungan, puasa senin-kamis yang selalu dilaksanakan, hafalan Quran yang sungguh mengagumkan, karakter yang sangat pandai menyemangati para stafnya, sosok tak kenal lelah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, salat Dhuha yang tak pernah ditinggalkannya. Ada akhwat yang sangat sopan dalam berkata-kata, ada pula yang dengan semangat mengutarakan ide gagasannya. Ada ikhwan yang sangat tegas walau dalam keadaan bercanda, ada pula yang sangat sopan dan menjaga tata krama.
Semua karakter itu, semua sifat itu, adalah anugerah dari Allah untuk kita. Seorang yang pandai berorasi, sangat tepat ditempatkan di barisan terdepan saat aksi. Seorang yang pandai dalam interpreneur, sangat diperlukan dalam menyokong dana. Seorang konseptor, sangat diperlukan utk menyumbangkan ide dan gagasannya demi kegiatan yang tepat sasaran. Seorang yang ahli dalam kerja-kerja teknis, sangat diperlukan untuk merealisasikan konsep yang cemerlang. Seorang yang ‘pelit’, sangat cocok ditempatkan pada posisi bendahara. Seorang yang senang shopping dan wisata kuliner, pasti tepat ditempatkan di bagian konsumsi. Seorang yang hobi berpetualang, akan cocok untuk menentukan tempat yang tepat untuk sebuah kegiatan. Bahkan, seorang yang suka kebut-kebutan, akan sangat diperlukan untuk menjemput pembicara.
Dari sisi kelemahan, selalu ada sisi kebaikan. Maka, dalam barisan kebaikan ini, tiada yang sia-sia. Allah Swt. menciptakan semua perbedaan itu agar kita saling menguatkan. Bukankah sebuah taman akan tampak lebih indah dengan bunga-bunga dan kupu-kupu yang berbeda-beda warnanya?
Penulis: Megawati Dharma Iriani
Ada juga yang berkomentar, “Kok yang jadi pembicara akhwat ya? Pesertanya kan ada ikhwan juga ....” sela seorang peserta training kepemimpinan ketika mendapati situasi yang berbeda dari yang biasa dialaminya.
Sempat pula kudengar seorang adik tingkat berkata, "Mbk, si A itu kok kalem banget sih … kan jadi terlihat lemah gitu di hadapan ikhwan…" Dan komentar lainnya. Bingung mendengar komentar-komentar itu ?
Mungkin saja kita jadi bingung bila mendengar komentar-komentar seperti itu. Ya, suatu sudut pandang yang berbeda dalam menilai sesuatu. Apalagi jika bersangkutan dengan yang namanya “akhwat”. Wanita yang berusaha menjalankan aturan sesuai syariat, tak jarang mendapat komentar dari kanan-kirinya.
Bagi sebagian besar orang, yang namanya akhwat itu harus identik dengan sifat lembut, kalem, tidak bicara kasar, menjaga sopan santun, dan lain sebagainya. Kalau mengenai ikhwan … ya, seorang yang identik dengan sifat tegas, pandai orasi, berwibawa, dan lain-lain. Pantas saja kalau sebagian orang terheran-heran ketika ada seorang akhwat yang punya sifat “nyentrik", dan menjadi kaget melihat ikhwan yang punya sifat lemah lembut.
Ingatkah kita kisah teladan dari Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka adalah sosok yang mengagumkan. Bahkan 10 diantaranya dijamin masuk surga. Ada juga empat pemimpin kaum Hawa di Jannah-Nya kelak, mereka berasal dari negeri yang berbeda-beda, dengan adat/kebiasaan yang berbeda, dengan sifat yang berbeda pula.
Rasulullah SAW adalah seorang yang paling lembut terhadap istri dan anak-anaknya, sangat sopan terhadap para sahabat/shobiyahnya. Bahkan pada seorang kafir buta yang sudah tua. Seiap hari beliau menyuapi orang kafir yang buta ini, sampai beliau wafat. Saat Abu Bakar menggantikannya untuk menyuapi orang buta itu, ia bisa dengan mudah membedakannya. Tapi, Rasulullah SAW adalah orang pertama yang “tidak terima” saat kaum kafir memusuhi Islam. Sikapnya begitu tegas dan keras saat musuh-musuh Islam itu merajalela.
Ingatkah engkau dengan sosok Abu Bakar? Sosok ikhwan yang sangat menjaga kesopanan, lemah lembut terhadap sesamanya. Dari segi fisik, beliau adalah seorang yang bertubuh kurus, sampai celananyapun sering kedodoran. Walau beliau banyak harta, tapi tak menghalanginya untuk menjauhkan lambung dari tempat tidurnya.
Beda lagi dengan Umar bin Khatab. Secara fisik, sosoknya tinggi besar, kekar, dan besar. Sifatnya sangat tegas. Tapi tak jarang beliau ditemukan dalam keadaan menangis tersedu dalam salat, bahkan sampai pingsa. Sosok yang selalu ingin bersaing dengan Abu Bakar ini, tak jenuh menanyakan pada Rasulullah SAW tentang apa-apa yang bisa membuatnya lebih dekat dengan Allah SWT.
Ustman bin Affan, seorang ikhwan hartawan yang sangat pemalu, bahkan malaikat pun malu pada beliau. Tak enggan memberikan harta di jalan Allah, itulah karakteristiknya.
Lain lagi dengan Ali bin Abi Thalib. Beliau seorang pemuda yang sangat bersahaja. Pemuda pertama yang memeluk agama Islam. Pemuda yang sangat menjaga hati terhadap lawan jenisnya, saampai Allah ‘menghadiahkan’ sosok lembut Fatimah binti Muhammad sebagai pendamping hidupnya. Walau keduanya sudah "ada rasa" sebelumnya, tapi mereka berusaha untuk tidak mengekspresikan sebelum saatnya tiba. Subhanallah ....
Ummahatul Mukminin, para wanita yang mendapat kehormatan mendampingi Rasulullah SAW, wanita dengan karakter luar biasa. Mereka semua memiliki karakter berbeda-beda dan memiliki keunggulannya masing-masing. Semua punya keunggulan amal, punya akhlak mulia yang luar biasa.
Siti Khadijah, sosok keibuan yang tiada bandingnya di hati Rasulullah SAW. Bahkan Rasul-pun sering menyebut namanya walau beliau sudah tiada hingga Aisyah cemburu dibuatnya. Khadijah adalah sosok penuh pesona, walaupun beliau seorang janda, seorang hartawan dan bangsawan, tapi tak membuatnya bimbang untuk menyerahkannya demi ke-muntijah-an Islam.
Aisyah adalah osok wanita dengan kedalaman ilmu yang sangat luar biasa. Bahkan seorang sahabat berkata, "Kalau ilmu Aisyah ditukar dengan ilmu para wanita di dunia, niscaya tidak sebanding dengannya. Hafalan hadisnya tidak perlu diragukan, kepandaiannya dalam ilmu kedokteran dan sastra, tidak perlu disangkal.
Hafshah binti Umar adalah seorang pemelihara al-Quran. Ummu Salamah dalah istri Rasulullah SAW yang pertama masuk Madinah. Ummu Habibah adalah mukminah yang amat setia terhadap agamanya. Juwairiyah binti Al-Harist adalah wanita pembawa berkah besar bagi kaumnya.
Para shohabiyah-pun tak perlu diragukan lagi. Asma’ binti Abu Bakar ialah Sang pemilik dua ikat pinggang. Ummu Khultsum binti Ali ialah bidan muslimah pertama. Sumayyah binti Khayyath ialah Syahidah pertama dalam Islam. Ummu ‘Umarah ialah prajurit mukminah.
Dan masih banyak lagi ...
Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan kita ? Silakan memilih teladan yang paling dikagumi, karakter yang paling sesuai diterapkan dengan diri pribadi. Jangan sampai tidak memilih sama sekali, begitu sindiran seorang ustadz.
Kawan, sekali lagi, mencontoh bukan berarti harus sama, kita tetap bisa menjadi diri sendiri, tinggal mengoptimalkan untuk berjuang meraih ridha-Nya. Sungguh, masing-masing dari kita pasti memiliki kecenderungan yang berbeda, punya sifat yang tidak sama, punya amal unggulan yang berbeda, asalkan tidak melanggar syariat-Nya.
Malu rasanya diri ini mengingat pribadi-pribadi yang luar biasa, yang saya sebutkan di atas. Ada teman yang sangat mendahulukan salat di awal waktu dengan berjamaah, ada yang senang membangunkan teman kos untuk salat malam, mengirim SMS tausiyah berkesinambungan, puasa senin-kamis yang selalu dilaksanakan, hafalan Quran yang sungguh mengagumkan, karakter yang sangat pandai menyemangati para stafnya, sosok tak kenal lelah yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga, salat Dhuha yang tak pernah ditinggalkannya. Ada akhwat yang sangat sopan dalam berkata-kata, ada pula yang dengan semangat mengutarakan ide gagasannya. Ada ikhwan yang sangat tegas walau dalam keadaan bercanda, ada pula yang sangat sopan dan menjaga tata krama.
Semua karakter itu, semua sifat itu, adalah anugerah dari Allah untuk kita. Seorang yang pandai berorasi, sangat tepat ditempatkan di barisan terdepan saat aksi. Seorang yang pandai dalam interpreneur, sangat diperlukan dalam menyokong dana. Seorang konseptor, sangat diperlukan utk menyumbangkan ide dan gagasannya demi kegiatan yang tepat sasaran. Seorang yang ahli dalam kerja-kerja teknis, sangat diperlukan untuk merealisasikan konsep yang cemerlang. Seorang yang ‘pelit’, sangat cocok ditempatkan pada posisi bendahara. Seorang yang senang shopping dan wisata kuliner, pasti tepat ditempatkan di bagian konsumsi. Seorang yang hobi berpetualang, akan cocok untuk menentukan tempat yang tepat untuk sebuah kegiatan. Bahkan, seorang yang suka kebut-kebutan, akan sangat diperlukan untuk menjemput pembicara.
Dari sisi kelemahan, selalu ada sisi kebaikan. Maka, dalam barisan kebaikan ini, tiada yang sia-sia. Allah Swt. menciptakan semua perbedaan itu agar kita saling menguatkan. Bukankah sebuah taman akan tampak lebih indah dengan bunga-bunga dan kupu-kupu yang berbeda-beda warnanya?
Penulis: Megawati Dharma Iriani
Umm 'Umara: Perisai Rasulullah SAW Di Uhud
Tag
Muslimah
Oleh Hamzah Qassim
Arrahmah.Com Stories – Umm ‘Umara telah dirahmati dengan pelbagai kehormatan, antaranya adalah kehadiran beliau di Uhud, al-Hudaibiyyah, Khaibar, Hunain dan Peperangan Yamama. Namun peranan beliau yang paling mulia adalah ketika Peperangan Uhud. Umm ‘Umara telah menyertai peperangan tersebut bersama suaminya, Ghaziya, berserta dua orang anak lelaki beliau. Tugas yang dipertanggungjawabkan ke atas beliau adalah untuk memberi air kepada para Mujahid yang cedera. Akan tetapi Allah SWT telah menetapkan satu peranan yang lebih besar dan mulia untuk beliau.
Maka beliau pun mengatur langkah bersama-sama dengan keluarga beliau dengan sebuah bekas kulit buat mengisi air. Mereka tiba di medan perang pada awal pagi hari. Tentera Islam, ketika itu, sedang menguasai peperangan dan beliau telah pergi melihat keadaan Rasulullah SAW. Pada masa yang sama sebilangan Tentera Islam telah membuat satu kesilapan yang teramat besar – melihatkan tentera Quraish berundur, mereka mula berkejaran mendapatkan harta-benda rampasan perang, melanggar arahan Rasulullah SAW supaya tetap di posisi mereka di atas bukit. Khalib bin Walid, (yang ketika itu belum lagi memeluk Islam), apabila melihat benteng pertahanan yang telah terbuka itu lantas mengepalai serangan-balas ke atas Tentera Islam. Penguasaan peperangan beralih kepada pihak Quraish. Dalam suasana kelam-kabut itu, ramai dari kalangan Tentera Islam panik dan berundur, meninggalkan Rasulullah SAW bersama-sama sekumpulan kecil para Sahabat RA. Di kalangan mereka ini termasuklah Umm ‘Umara.
Melihatkan ramai dari kalangan Tentera Islam yang berundur, Umm ‘Umara lantas berlari ke arah Rasulullah SAW dan mengangkat senjata demi mempertahankan baginda SAW, bersama-sama dengan suami dan kedua anak lelakinya. Rasulullah SAW menyedari yang Umm ‘Umara tidak mempunyai perisai lantas baginda SAW mengarahkan salah seorang daripada mereka yang sedang berundur supaya memberikan perisainya kepada Umm ‘Umara yang sedang bertarung. Setelah mendapat perisai tersebut, Umm ‘Umara mempertahankan Rasulullah SAW menggunakannya bersama-sama dengan busur, anak panah dan juga pedang. Umm ‘Umara diserang oleh tentera berkuda tetapi beliau tidak sekalipun gentar atau berasa gerun. Beliau kemudiannya telah berkata, “Sekiranya mereka itu tidak berkuda seperti kami, nescaya telah kami hancurkan mereka, insha-Allah.”
Abdullah ibn Zayed, anak lelaki beliau, telah mengalami kecederaan ketika peperaang tersebut. Lukanya itu berdarah dengan banyak sekali. Ibunya berlari kepadanya dan membalut lukanya itu. Kemudian Umm ‘Umara memerintahkan anak lelakinya itu, “Maralah dan perangi mereka, anakku!” Rasulullah SAW mengagumi semangat pengorbanan beliau dan telah memuji beliau, “Siapakah yang boleh menanggung apa yang kamu mampu tanggung, Umm ‘Umara!”
Tiba-tiba lelaki yang telah mencederakan anak lelakinya mara dan Rasulullah SAW berkata kepada beliau bahawa inilah lelaki yang mencederakan anaknya. Umm ‘Umara dengan berani mencabar lelaki tersebut, yang menurut anak Umm ‘Umara sendiri, adalah seperti perdu pokok yang besar. Umm ‘Umara mencederakan kaki musuhnya itu, menjatuhkannya sehingga berlutut. Rasulullah SAW tersenyum sehingga menampakkan gigi baginda SAW dan berkata, “Kamu telah membalasnya, Umm ‘Umara!” Setelah lelaki tersebut ditewaskan, Rasulullah SAW kemudiannya berkata “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kamu kemenangan dan menggembirakan kamu atas musuh kamu dan membolehkan kamu menuntut bela.”
Pada satu ketika, Rasulullah SAW telah keseorangan. Melihat peluang keemasan itu, pihak musuh, Ibn Qumay’a segera menyerang Rasulullah SAW sambil menjerit “Tunjukkan Muhammad padaku! Aku takkan selamat sekiranya dia diselamatkan!”. Lantas Mus’ab ibn ‘Umayr, bersama-sama dengan beberapa orang sahabat yang lain, bergegas mempertahankan Rasulullah SAW. Umm ‘Umara yang turut bersama-sama dengan mereka terus menetak musuh Allah itu, walaupun dia memakai dua lapis baju besi. Ibn Qumay’a berjaya menetakkan bahagian leher Umm ‘Umara, meninggalkan luka yang teruk. Rasulullah SAW terus memanggil anak lelaki Umm ‘Umara, mengarahkannya membalut luka ibunya sambil mendoakan kerahmatan dan kesejahteraan ke atas mereka dan menyatakan kemuliaan mereka. Umm ‘Umara, bila menyedari yang Rasulullah SAW menyukai kesungguhan dan keberanian beliau, lantas meminta Rasulullah SAW supaya berdoa agar mereka dijadikan Allah di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah SAW di syurga nanti. Selepas Rasulullah SAW berdoa, Umm ‘Umara lantas berkata, “Aku tidak pedulikan apa sahaja yang menimpaku di dunia ini!”
Pada hari tersebut, Umm ‘Umara menerima tiga belas luka dan luka di lehernya terpaksa dirawat selama setahun. Beliau kemudiannya juga menyertai Peperangan Yamama, di mana beliau menerima sebelas luka dan kehilangan tangan.
Keberanian Umm ‘Umara menyebabkan semua para Sahabat RA mennghormati beliau, terutamanya para Khalifah yang akan menziarahi beliau dan sentiasa mengambil berat tentang keadaan beliau. Umar ibn Khattab RA telah menerima kain-kain sutera yang sangat bagus buatannya. Salah seorang yang berada di situ berkata bahawa kain tersebut sangat mahal dan Umar RA patut memberikannya kepada isteri Abdullah ibn Umar, Safiyya bint Abu ‘Ubayd. Umar RA walaubagaimanapun tidak mahu memberikan kain yang sedemikian kepada menantunya. “Ini adalah sesuatu yang tidak akan kuberikan kepada ibn Umar. Aku akan berikannya kepada seseorang yang lebih berhak keatasnya – Umm ‘Umara Nusayba bint Ka’b.” Umar RA kemudian menceritakan bagaimana ketika Peperangan Uhud, beliau mendengar Rasulullah berkata bahawa apabila baginda SAW melihat ke kiri mahupun ke kanan, baginda nampak Umm ‘Umara sedang bertarung di hadapan baginda SAW.
Inilah kehidupan Umm ‘Umara, pejuang yang tetap berdiri apabila ramai yang berundur, yang mengarahkan anaknya yang cedera parah kembali menyertai peperangan yang sengit, dan yang bersedia menggadaikan nyawanya demi menyelamatkan Rasulullah SAW. Sebagai balasan, beliau menerima doa agar dijadikan di kalangan sahabat Rasulullah SAW di syurga.
Moga Allah SWT merahmati para Muslimah kita dengan keberanian, semangat pengorbanan dan istiqamah yang sedemikian.
Arrahmah.Com Stories – Umm ‘Umara telah dirahmati dengan pelbagai kehormatan, antaranya adalah kehadiran beliau di Uhud, al-Hudaibiyyah, Khaibar, Hunain dan Peperangan Yamama. Namun peranan beliau yang paling mulia adalah ketika Peperangan Uhud. Umm ‘Umara telah menyertai peperangan tersebut bersama suaminya, Ghaziya, berserta dua orang anak lelaki beliau. Tugas yang dipertanggungjawabkan ke atas beliau adalah untuk memberi air kepada para Mujahid yang cedera. Akan tetapi Allah SWT telah menetapkan satu peranan yang lebih besar dan mulia untuk beliau.
Maka beliau pun mengatur langkah bersama-sama dengan keluarga beliau dengan sebuah bekas kulit buat mengisi air. Mereka tiba di medan perang pada awal pagi hari. Tentera Islam, ketika itu, sedang menguasai peperangan dan beliau telah pergi melihat keadaan Rasulullah SAW. Pada masa yang sama sebilangan Tentera Islam telah membuat satu kesilapan yang teramat besar – melihatkan tentera Quraish berundur, mereka mula berkejaran mendapatkan harta-benda rampasan perang, melanggar arahan Rasulullah SAW supaya tetap di posisi mereka di atas bukit. Khalib bin Walid, (yang ketika itu belum lagi memeluk Islam), apabila melihat benteng pertahanan yang telah terbuka itu lantas mengepalai serangan-balas ke atas Tentera Islam. Penguasaan peperangan beralih kepada pihak Quraish. Dalam suasana kelam-kabut itu, ramai dari kalangan Tentera Islam panik dan berundur, meninggalkan Rasulullah SAW bersama-sama sekumpulan kecil para Sahabat RA. Di kalangan mereka ini termasuklah Umm ‘Umara.
Melihatkan ramai dari kalangan Tentera Islam yang berundur, Umm ‘Umara lantas berlari ke arah Rasulullah SAW dan mengangkat senjata demi mempertahankan baginda SAW, bersama-sama dengan suami dan kedua anak lelakinya. Rasulullah SAW menyedari yang Umm ‘Umara tidak mempunyai perisai lantas baginda SAW mengarahkan salah seorang daripada mereka yang sedang berundur supaya memberikan perisainya kepada Umm ‘Umara yang sedang bertarung. Setelah mendapat perisai tersebut, Umm ‘Umara mempertahankan Rasulullah SAW menggunakannya bersama-sama dengan busur, anak panah dan juga pedang. Umm ‘Umara diserang oleh tentera berkuda tetapi beliau tidak sekalipun gentar atau berasa gerun. Beliau kemudiannya telah berkata, “Sekiranya mereka itu tidak berkuda seperti kami, nescaya telah kami hancurkan mereka, insha-Allah.”
Abdullah ibn Zayed, anak lelaki beliau, telah mengalami kecederaan ketika peperaang tersebut. Lukanya itu berdarah dengan banyak sekali. Ibunya berlari kepadanya dan membalut lukanya itu. Kemudian Umm ‘Umara memerintahkan anak lelakinya itu, “Maralah dan perangi mereka, anakku!” Rasulullah SAW mengagumi semangat pengorbanan beliau dan telah memuji beliau, “Siapakah yang boleh menanggung apa yang kamu mampu tanggung, Umm ‘Umara!”
Tiba-tiba lelaki yang telah mencederakan anak lelakinya mara dan Rasulullah SAW berkata kepada beliau bahawa inilah lelaki yang mencederakan anaknya. Umm ‘Umara dengan berani mencabar lelaki tersebut, yang menurut anak Umm ‘Umara sendiri, adalah seperti perdu pokok yang besar. Umm ‘Umara mencederakan kaki musuhnya itu, menjatuhkannya sehingga berlutut. Rasulullah SAW tersenyum sehingga menampakkan gigi baginda SAW dan berkata, “Kamu telah membalasnya, Umm ‘Umara!” Setelah lelaki tersebut ditewaskan, Rasulullah SAW kemudiannya berkata “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kamu kemenangan dan menggembirakan kamu atas musuh kamu dan membolehkan kamu menuntut bela.”
Pada satu ketika, Rasulullah SAW telah keseorangan. Melihat peluang keemasan itu, pihak musuh, Ibn Qumay’a segera menyerang Rasulullah SAW sambil menjerit “Tunjukkan Muhammad padaku! Aku takkan selamat sekiranya dia diselamatkan!”. Lantas Mus’ab ibn ‘Umayr, bersama-sama dengan beberapa orang sahabat yang lain, bergegas mempertahankan Rasulullah SAW. Umm ‘Umara yang turut bersama-sama dengan mereka terus menetak musuh Allah itu, walaupun dia memakai dua lapis baju besi. Ibn Qumay’a berjaya menetakkan bahagian leher Umm ‘Umara, meninggalkan luka yang teruk. Rasulullah SAW terus memanggil anak lelaki Umm ‘Umara, mengarahkannya membalut luka ibunya sambil mendoakan kerahmatan dan kesejahteraan ke atas mereka dan menyatakan kemuliaan mereka. Umm ‘Umara, bila menyedari yang Rasulullah SAW menyukai kesungguhan dan keberanian beliau, lantas meminta Rasulullah SAW supaya berdoa agar mereka dijadikan Allah di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah SAW di syurga nanti. Selepas Rasulullah SAW berdoa, Umm ‘Umara lantas berkata, “Aku tidak pedulikan apa sahaja yang menimpaku di dunia ini!”
Pada hari tersebut, Umm ‘Umara menerima tiga belas luka dan luka di lehernya terpaksa dirawat selama setahun. Beliau kemudiannya juga menyertai Peperangan Yamama, di mana beliau menerima sebelas luka dan kehilangan tangan.
Keberanian Umm ‘Umara menyebabkan semua para Sahabat RA mennghormati beliau, terutamanya para Khalifah yang akan menziarahi beliau dan sentiasa mengambil berat tentang keadaan beliau. Umar ibn Khattab RA telah menerima kain-kain sutera yang sangat bagus buatannya. Salah seorang yang berada di situ berkata bahawa kain tersebut sangat mahal dan Umar RA patut memberikannya kepada isteri Abdullah ibn Umar, Safiyya bint Abu ‘Ubayd. Umar RA walaubagaimanapun tidak mahu memberikan kain yang sedemikian kepada menantunya. “Ini adalah sesuatu yang tidak akan kuberikan kepada ibn Umar. Aku akan berikannya kepada seseorang yang lebih berhak keatasnya – Umm ‘Umara Nusayba bint Ka’b.” Umar RA kemudian menceritakan bagaimana ketika Peperangan Uhud, beliau mendengar Rasulullah berkata bahawa apabila baginda SAW melihat ke kiri mahupun ke kanan, baginda nampak Umm ‘Umara sedang bertarung di hadapan baginda SAW.
Inilah kehidupan Umm ‘Umara, pejuang yang tetap berdiri apabila ramai yang berundur, yang mengarahkan anaknya yang cedera parah kembali menyertai peperangan yang sengit, dan yang bersedia menggadaikan nyawanya demi menyelamatkan Rasulullah SAW. Sebagai balasan, beliau menerima doa agar dijadikan di kalangan sahabat Rasulullah SAW di syurga.
Moga Allah SWT merahmati para Muslimah kita dengan keberanian, semangat pengorbanan dan istiqamah yang sedemikian.
Yahudisasi Al Quds terus digencarkan
Tag
INTERNASIONAL
YERUSALEM (Arrahmah.com) – Jumat (30/11/2011), kembali Zionis Yahudi berusaha menyahudisasi Al Quds dengan cara membungkam suara adzan.
Proposal yang dibuat oleh lembaga intelijen pendudukan Israel di Yerusalem berisi usulan untuk menghubungkan dewan kota ke speaker di sejumlah masjid, agar pihak dewan kota Israel di Yerusalem bisa mengontrol tingkat kekuatan suara adzan yang dikumandangkan, yang diduga mengganggu sejumlah pemukim Zionis khususnya selama adzan subuh.
Lembaga Islam di kota Yerusalem menolak keras upaya Zionis Israel membungkam suara adzan dari masjid dengan alasan bahwa suara adzan telah menyebabkan pemukim Yahudi terganggu.
Sementara itu menurut laporan Al Jazeera, para pemukim Yahudi menyerukan agar kota Yerusalem menggunakan hukum Israel yang melarang penggunaan pengeras suara secara kuat yang berlaku untuk masjid.
Syaikh Muhammad Hussain, mufti di Yerusalem dan Tanah Suci menegaskan bahwa usulan tersebut datang dari Zionis Israel sebagai bagian dari kampanye untuk menyahudisasi kota suci Al-Quds.
Beberapa syaikh dan imam mesjid, termasuk Ishak Syihadih Imam masjid di Beit Hanina menolak proposal dari Israel tersebut.
Sebelumnya larangan adzan (terutama yang berasal dari masjid Al Ibrahimi) di wilayah Hebron pernah diterapkan oleh otoritas Israel yang berada di wilayah itu pada November 2010 silam dengan alasan mengganggu pemukiman Yahudi merayakan pesta.
Begitulah makar zionis Yahudi, mereka tak akan pernah berhenti sampai kita sendiri merasa lelah dengan ulah mereka. Tak bisa menghentikan perlawanan kaum muslimin di Palestina, mereka tetap masih seenaknya menggencet kaum muslimin di wilayah Yerusalem dengan cara apapun. (rasularasy/arrahmah.com)
Proposal yang dibuat oleh lembaga intelijen pendudukan Israel di Yerusalem berisi usulan untuk menghubungkan dewan kota ke speaker di sejumlah masjid, agar pihak dewan kota Israel di Yerusalem bisa mengontrol tingkat kekuatan suara adzan yang dikumandangkan, yang diduga mengganggu sejumlah pemukim Zionis khususnya selama adzan subuh.
Lembaga Islam di kota Yerusalem menolak keras upaya Zionis Israel membungkam suara adzan dari masjid dengan alasan bahwa suara adzan telah menyebabkan pemukim Yahudi terganggu.
Sementara itu menurut laporan Al Jazeera, para pemukim Yahudi menyerukan agar kota Yerusalem menggunakan hukum Israel yang melarang penggunaan pengeras suara secara kuat yang berlaku untuk masjid.
Syaikh Muhammad Hussain, mufti di Yerusalem dan Tanah Suci menegaskan bahwa usulan tersebut datang dari Zionis Israel sebagai bagian dari kampanye untuk menyahudisasi kota suci Al-Quds.
Beberapa syaikh dan imam mesjid, termasuk Ishak Syihadih Imam masjid di Beit Hanina menolak proposal dari Israel tersebut.
Sebelumnya larangan adzan (terutama yang berasal dari masjid Al Ibrahimi) di wilayah Hebron pernah diterapkan oleh otoritas Israel yang berada di wilayah itu pada November 2010 silam dengan alasan mengganggu pemukiman Yahudi merayakan pesta.
Begitulah makar zionis Yahudi, mereka tak akan pernah berhenti sampai kita sendiri merasa lelah dengan ulah mereka. Tak bisa menghentikan perlawanan kaum muslimin di Palestina, mereka tetap masih seenaknya menggencet kaum muslimin di wilayah Yerusalem dengan cara apapun. (rasularasy/arrahmah.com)
Semai Mesra di hari HARBA (Hari Bangkit)
Tag
Aktivitas
HARBA (Hari Bangkit) ke-64 Pelajar Islam Indonesia (PII) dengan maksud bahwa Pelajar Islam Indonesia dengan kebangkitanya dapat menggerakkan ummah kepada Kemuliaan Islam. Bukanlah untuk atau demi eksistensi PII kami berjuang tetapi demi dan untuk eksistensi Islam.
Untuk tahun ini kami Pengurus Daerah (PD) PII Kabupaten Pati menyajikan acara yang sangat sederhana namun sangat penting bagi awalan kepengurusan yaitu "JALINAN UKHUWWAH" yang inshaAllah akan dijemput :
Untuk tahun ini kami Pengurus Daerah (PD) PII Kabupaten Pati menyajikan acara yang sangat sederhana namun sangat penting bagi awalan kepengurusan yaitu "JALINAN UKHUWWAH" yang inshaAllah akan dijemput :
1. Pengurus Daerah PII Pati
2. Pengurus Wilayah PII Jawa Tengah
5. Orang tua Pengurus Daerah
4. Keluarga Besar PII
Kegiatan akan dilaksanakan di :
AUDITORIUM MASJID AL-ISLAM INDONESIA
Tanggal : 8 Mei 2011
Objektif :
Memahamkan dan menyedarkan kepada orangtua pengurus akan perjuangan mereka di PII
Menyemai kemesraan diantara KB, Pengurus, Orangtua dan masyarakat
Menegaskan bahwa PII milik bersama
Menegaskan bahwa PII membina Pelajar dan sebagai wadah penyemai kekeluargaan
Langgan:
Ulasan (Atom)

